Followers

Visitors

blog-indonesia.com
   
Showing posts with label Novel Sastra. Show all posts
Showing posts with label Novel Sastra. Show all posts


Novel Ular Keempat karya Gus tf Sakai merupakan sebuah novel yang mencoba untuk kembali memecah persoalan penting dalam adat Minangkabau. Cerita yang membungkus persoalan ini adalah sebuah kisah nyata tentang rombongan jemaah haji yang terjadi pada tahun 1970-an. Mereka dilarang untuk melanjutkan perjalanan haji karena mereka tidak melalui prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah, melalui departemen agama, dan juga karena ulah penyedia jasa perjalanan ibadah haji swasta. Namun, akhirnya mereka tetap melakukan ibadah haji dengan cara negosiasi dengan pihak kapal, yang menaruh perhatian terhadap perjuangan mereka. Dan juga ternyata bahwa pemerintah Arab Saudi menyambut mereka dengan penghormatan yang luar biasa, karena perjuangan yang telah mereka lakukan untuk sampai di tanah suci.

Kisahan novel ini dilakukan dengan memutar kembali ingatan sang tokoh, Junir, yang sering kali menjemput ingatannya tentang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di kampung halamannya semaca kecil. Dengan cara yang demikian, cerita bersesakan dengan berbagai setting yang pernah terjadi, keadaan sosial politik, peristiwa PRRI, romantisme kampung halaman, rindu dendam, dan juga persoalan demokrasi yang ada di Minangkabau, yang menjadi bagian penting di akhir novel ini.

Sunyi adalah duniaku. Sunyi adalah nasibku. Sunyi dunia tanpa bunyi, tanpa suara. Segalagalanya sunyi.  Bagiku dunia terkembang sama seperti bagimu, Saudaraku.

Engkau kenal suka. Aku pun kenal. Engkau tahu pahit dan manis, aku pun tahu. Engkau senang pada yang lembut, benci pada yang kasar, aku pun begitu. Engkau riang pada yang terang, sepi pada yang gelap, aku pun demikian. Tapi duniaku tidak semuanya sama dengan duniamu, Saudaraku. Duniaku adalah sunyi.

Engkau tidak akan tahu kenapa duniaku mesti sunyi, Saudaraku. Aku juga tidak tahu. Semua orang mengatakan, itulah suratan nasib. Kenapa hidup seperti ini dipilihkan nasib bagiku. Aku tidak tahu. Hanya Tuhanlah yang tahu. Maka terkembanglah duniaku sendiri yang tak dapat kau kenal, dunia tanpa bunyi dan suara. Karena aku tuli dan karenanya pula aku bisu. Kalau aku bisa bercerita padamu sekarang, Saudaraku, adalah suatu keajaiban yang dijalin oleh nasib. Setelah kau selesai membaca kisah ini nanti, kau akan tahu betapa nasib itu telah menjalin semuanya dalam diriku.

NAMAKU HIROKO adalah satu dari sekian banyak novel Nh. Dini. Novel ini bercerita tentang seorang perempuan miskin dari selatan negeri Jepang yang bernama Hiroko Ueno. Hiroko hanya sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar. Setelah itu, ia hanya membantu orang tuanya bekerja di sawah dan mengurus kedua adik laki-lakinya dari perkawinan ayahnya yang kedua.

Ketika berusia 12 tahun, Hiroko pergi ke kota dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia menjalani profesi barunya dengan kesungguhan hati, hingga majikannya sangat sayang kepadanya. Sayang, Hiroko harus pulang ke desanya ketika neneknya meninggal, sehingga ia harus meninggalkan pekerjaan yang disukainya.


Hiroko bertemu dengan sahabat masa kecilnya, Tomiko, yang mengajaknya kembali ke kota. Dari sinilah dimulai segala petualangan Hiroko yang mulai beranjak dewasa dan mengenal kehidupan orang dewasa lengkap dengan persoalan dan pilihan. Hiroko si gadis desa polos berubah menjadi wanita kota yang mementingkan penampilan dan kekayaan. Ia pun tak segan-segan menjadi seorang penari striptease. Dalam kehidupan cintanya, ia mengalami beberapa konflik dengan bebarapa pria, diantaranya Sanao, cinta pertama sekaligus pria pertama yang mengambil keperawanannya, Yukio Kishihara, pengagum Hiroko yang ternyata memiliki niat terselubung menjadikan Hiroko selingkuhannya, Suprapto, mahasiswa salah satu universitas Jepang asal Indonesia yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus, mereka pun sempat bertunangan, namun diputuskan karena Hiroko sudah tidak tertarik secara fisik lagi dengannya; dan yang terakhir, Yoshida Okamura, pria yang memenuhi kriteria Hiroko (tampan, kaya dan gagah) namun sayangnya adalah suami dari sahabatnya sendiri, Natsuko. Pilihan Hiroko yang mengejutkan membawa cerita dengan akhir yang bahagia --menurut Hiroko.

Bagaimana di hatimu, begitu pula di hatiku. Perkataan itu masih mendengung di telingan si Taram. Itu sesungguhnyalah. Pertemuan si taram dengan Siti Nurhaida yang akhir sekali, yaitu pada suatu petang di tempat yang amat lengang, membangkitkan api berahi yang memang sudah menyala di salam hati kedua anak muda itu. Betapa tidak, karena Murhaida berikrar dengan lidahnya, berkata dengan kata hati, mengharamkan laki-laki yang lain akan jadi suaminya, selain daripada si taram, anak angkat batin kampung itu
 Si Taram tiadalah bertepuk sebelah tangan. Cinta hati anak gadis itu kepadanya sudah berurat berakhir pula. Rupanya yang manis dan kelakuannya yang tak hendak menyakitkan hati orang itulah yang terutama memikat menggetah hati kecil anak gadis itu

"SEBUAH Desa, Sebuah Mitos" Begitulah subjudul Kuntowijoyo mengawali cerita bersambungnya yang dimuat di Kompas mulai hari ini, berjudul Mantra Pejinak Ular. Menokohkan Abu Kasan Sapari yang dipercaya oleh kalangan terdekatnya sebagai masih keturunan pujangga besar Ronggowarsito, cerita ini berlatar belakang kehidupan sosial berikut dunia batin masyarakat desa di wilayah kebudayaan Jawa, Surakarta, dan sekitarnya, taruhlah seperti Klaten serta daerah lain yang berasosiasi pada desa-desa di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Dalam setting budaya Jawa berikut warna Islam yang selalu mewarnai karya-karya Kunto, Abu Kasan Sapari bertumbuh dalam suatu proses dialektik dengan zaman yang terus bergerak, pada kurun waktu kira-kira menjelang akhir abad ke-20. Abu Kasan Sapari mewarisi bakat mendalang dan segala olah batin dari para leluhurnya. Itulah yang membuat seorang tua-datang entah dari mana-tiba-tiba pada suatu hari menemuinya dan mewariskan mantra atau ilmu penjinak ular. Sebagai dalang, sebagai pegawai kecamatan di desa di kaki Gunung Lawu, atau sebagai siapa saja manusia Indonesia yang hidup pada periode zaman ini, pasti mengalami, bersentuhan, bertubrukan, atau sedikitnya menjadi saksi, bagaimana mesin politik Orde Baru-Soeharto beroperasi.

Situasi berikut yang dihadapi Abu Kasan Sapari adalah bagaimana Abu, dengan segala pemahamannya yang khas atas dunia, menghadapi apa yang disebut Kunto sebagai "mesin politik". Si "mesin politik" yang menjadi  antagonis mengingatkan bagaimana kekuasaan politik di akhir abad ke-20 Indonesia beroperasi sampai ke desa-desa. Sesuai dengan sifat cerita dan sikap yang dipilih Kunto di situ, perbenturan antara sebuah pribadi di desa dengan "mesin politik" dilukiskan tidak dalam tabrakan yang seru, namun liris dan menyentuh rasa keadilan.

Roman karya Tulis Sutan Sati ini berkisah tentang dua orang pemuda, Midun dan Kacak yang saling Bermusuhan. Midun anak miskin, berbudi baik, sopan, sabar, dan taat menjalankan perintah agama. Midun juga sangat pandai bermain silat. Sementara Kacak adalah anak seorang kaya, mamaknya menjadi penghulu Laras di daerah itu sehingga tak heran jika Kacak menjadi sombong dan bangga dengan kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya. Kacak juga selalu ingin menang sendiri dan tidak senang melihat orang lain yang melebihi dirinya. Karena Midun lebih disukai orang, Kacak menjadi sangat iri. Itulah pangkal dari permusuhan di antara mereka.

Perjalan Midun menjadi orang yang sukses, mendapatkan Halimah sebagai pasangan hidup yang dicintai, karier yang meningkat hingga membuat Kacak takut karena ia lelah melakukan korupsi. Perjalanan hidup Midun yang penuh liku dan menegangkan dikisahkan dalam roman ini.

Salah satu karya sastrawan angkatan 1950-1960, Mochtar Lubis. Cerita yang berawal tenang dan wajar, tentang para penduduk desa yang secara rutin masuk hutan untuk beberapa hari demi menyadap getah karet serta berburu.  Konflik mulai saat seekor harimau kelaparan mengintai rombongan penduduk tersebut dan mengincar mereka. 

Dalam keadaan letih dan ketakutan, ikatan rombongan yang akrab dan tampak damai pun mulai tercabik-cabik rasa curiga dan benci. Perasaan takut bukan hanya karena bahaya harimau yang mengancam, tetapi karena segala beban kesalahan di masa lalu mendadak menghantui dan khawatir mungkin akan dibongkar oleh rekan yang lain (terlebih para warga itu percaya hal klenik bahwa harimau datang untuk menangkap mereka yang memiliki dosa besar). Dari serangakaian pesan moral yang kemudian 'digelar' menjelang akhir cerita, secara singkat mungkin kutipan kalimat dari tokoh Pak Haji ini yang paling mengena: "Sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri

Kesejatian hidup ada pada batu kerikil yang tertendang ketika kau melangkah menyusuri jalan. Kesejatian hidup ada pada selembar daun kering yang gugur tertiup angin. Kesejatian hidup ada air susu ibu yang yang merelakan puting payudaranya diisap oleh bayi manapun. Di Vihara Pit Yong Kiong, Pasuruan, di pelabuhan Belawan, di Penang, di Bangkok, di Laos, di Golden Triangle, di Cambodia, di Bandung, di manapun kau hidup. 

Tapi, dia mungkin tak terlihat pada arus politik yang menyudutkanmu pada pilihan kedigdayaan. Dia  menyembunyikan diri dari teriakan-teriakan yang menggemakan perubahan. Kesejatian hidup tak memerlukan perubahan, namun juga tak menampiknya. Dia rebah pada semua kesederhanaan  yang ada di sekelilingmu. Maka, carilah, dan kamu akan mendapatinya.  Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Mintalah, maka kau akan diberi. 

Demikianlah Dewi Lestari mewakilkan sebuah upaya pencarian kesejatian hidup  pada seorang tokoh bernama Bodhi. Seorang bayi yang di suatu pagi tergeletak  di pintu Vihara. Dipungut, diasuh, dan dididik oleh seorang Pandita, Guru Liong. Merasa bahwa karma pada hidup masa lalunya sangat berat. 18 tahun dididik dengan ketat, termasuk penguasaan terhadap sebuah ilmu bela diri,  Bodhi mengalami penyempurnaan bathin. Pemurnian spirit. Termasuk sejumlah pengalaman uniknya yang "merasa" menjadi ulat, tikus got, kucing, dan sapi. 


18 tahun adalah waktu yang cukup, dan Bodhi mohon pamit. Bersama serombongan  pendeta Buddha, Bodhi menyeberang ke Sumatera dan memutuskan menetap di daerah Belawan. Tanpa KTP, tak juga faham mengenai asal usul dan tanggal kelahirannya. Bekerja tiga bulan, mendapat upah, dan dibantu oleh Ompu  Berlin untuk mendapatkan sejumlah dokumen identitas termasuk paspor, Bodhi  menyeberang ke Penang. Disana dia bertemu dengan sejumlah backpackers yang  kemudian "memberi" arah perjalanan berikutnya: Bangkok. 

Inilah episode ketiga dari serial Supernova yang terbit pertama kali akhir tahun 2004. Berbeda dengan episode-episode sebelumnya yang memuat aneka lokasi di muka Bumi, PETIR hanya mengambil lokasi di Bandung, Jawa Barat. Tokoh sentral yang diceritakan dalam episode ini bernama Elektra Wijaya, seorang anak keturunan Tionghoa yang tinggal sebatang kara di rumah tua warisan ayahnya, seorang ahli elektronik bernama Wijaya. Elektra yang pendiam dan kuper selalu hidup dalam bayang-bayang popularitas kakaknya, Watti. Setelah Watti menikah dan pindah tempat tinggal, Elektra dengan segala kepolosannya mulai menata hidupnya di Bandung dengan berbagai macam cara. Revolusi terbesar Elektra terjadi ketika akhirnya ia bertemu dengan Mpret, seorang 'penjahat' internet yang punya jaringan pergaulan sangat luas. Mereka merombak rumah Elektra menjadi warnet paling terkenal di Bandung bernama Elektra Pop. Namun pertemuan Elektra dengan Ibu Sati, seorang ibu misterius keturunan India yang mengajarkannya menjadi seorang terapis listrik, yang lantas mengubah total hidupnya. Elektra menemukan potensi besar dalam dirinya yang selama ini tidak ia tahu. Dan petualangannya tidak berhenti sampai di sana. Pada ujung cerita, Elektra berkenalan dengan Bong, yang akan segera mempertemukannya dengan Bodhi (Supernova: AKAR). 

Meski terkesan ringan dan sarat humor, PETIR justru banyak menuai pujian dari kalangan kritikus dan sastrawan.Tak ada cara untuk menggambarkannya dengan tepat. Tapi coba bayangkan ada sepuluh ribu ikan piranha yang menyergapmu langsung. Kau tak mungkin berpikir. Tak mungin mengucapkan kalimat perpisahan apalagi membacakan wasiat. Lupakan untuk berpisah dengan manis dan mesra seperti di film-film. Listrik membunuhmu dengan sensasi. Begitu dashyatnya. engkau hanya mampu terkulai lemas. Engkau mati tergoda.

Roman Layar Terkembang menceritakan perjuangan wanita Indonesia beserta cita-citanya. Dua gadis bersaudara memiliki perangai yang berbeda. Maria adalah seorang dara yang lincah dan periang, sedang Tuti selalu serius dan aktif dalam kegiatan wanita. Maria memiliki badan yang ramping, ia baru berusia dua puluh tahun dan sekolah di H.B.S Carpentier Alting Stichting kelas penghabisan. Tuti adalah kakak dari Maria, badannya tegak dan agak gemuk. Ia telah berusia dua puluh lima tahun dan menjadi guru di Sekolah H.I.S Arjuna di Petojo. Mereka adalah anak Raden Wiriaatmaja , mantan wedana di daerah Banten dan ketika pensiun pindah ke Jakarta.

Adalah Yusuf, seorang pemuda putra Demang Munaf di Mertapura di Kalimantan Selatan. Yusuf adalah seorang mahasiswa kedokteran,yang pada masa lalu dikenal dengan sebutan Sekolah Tabib Tinggi. Ia tinggal bersama saudaranya yang tinggal di Sawah Besar di Daerah Jawa. Sejak perkenalannya dengan Tuti dan Maria, Yusuf pun jatuh cinta pada Maria. Perjalanan cinta Yusuf dan Maria, ambisi dan idealisme Tuti tentang persamaan hal dan emansipasi mewarnai hampir seluruh roman ini. Hingga akhirnya Maria harus menyerah karena penyakit TBC-nya, dan Tuti menerima Yusuf sebagai calon suami sekaligus memenuhi amanat adiknya sebelum meninggal.


Sebelum kisah persahabatan Aminuddin dengan Mariamin diteruskan, baiklah kita kembali dahulu sebentar kepada kematian Sutan Baringin dan bagaimana jalannya kehidupan orang anak-beranak itu jatuh melarat, sebagai tersebut pada awal cerita ini.

Orang tua Sutan Baringin masuk golongan orang kaya diantara penduduk Sipirok. Hanya ia sendirilah anak orang tuanya yang laki-laki. Sebagai acap kali kejadian akan tabiat anak tunggal itu, adalah amat manja dan nakal pada waktu ia masih anak-anak, karena barang apa kesukaannya selamanya dituruti orang tuanya. Meskipun ia salah atau kelakuannya tidak baik, jaranglah ia dimarahi orang tuanya, apalagi kena pukul jangan dikata lagi. Kalau bapaknya marah kepadanya karena nakalnya, ibunyapun datang menarik dia dari hadapan bapaknya, seraya berkata, “Salah sedikit sudah mau dihantam; kelakuan bapak apakah demikian kepada anaknya ? tiadakah engkau tahu, ia hanya sendiri saja yang laki-laki ?”

Tohir, demikianlah nama anak itu pada waktu kecilnya, makin lama makin besarlah. Akan tetapi tiadalah ia anak yang baik dan penurut kepada orang tuanya. Sehari-hari ia menjadi pokok pertengkaran diantara ayah dan ibunya dan ia pun tiada mendapat didikan yang baik, karena ibunya selalu memanjakan dia dan suatu pun tiada dapat si bapak berusaha akan memimpin anaknya itu, supaya menjadi orang yang baik di belakang hari. Ia amat bersusah hati karena semua pekerjaannya percuma dan anaknya semakin nakal dan bengis kelakuannya. Yang menyebabkan itu semua tiada lain dari sebab perbuatan istrinya. Kadang-kadang ia marah kepada ibu si Tohir serta katanya, “Jangan dibiarkan anak kita itu sebagai anak yang tiada mempunyai orang tua, yang memberi pengajaran yang baik bagi dia." 


... Maksud yang engkau terangkat itu, amat saya setujui, itulah suatu maksud yang baik, sebab itu adalah suatu hikayat dan kejadian yang mendukakan hati dan merawankan pikiran, yang kerap kali benar kejadian dalam kalangan pemuda-pemudi kita. 


... Demi bila buku itu telah selesai, kirimkanlah kiranya kepadaku barang senaskah, guna menghidangkan kenang-kenanganku kepada masa yang telah lampau, semasa kita masih bernaung DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH

Roman ini diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka pada tahu 1922. Buku yang berjudul Siti Nurbaya ini berhasil menempatkan diri sebagai puncak roman di antara roman-roman lain yang dianggap orang sebagai puncak roman dalam Sastra Indonesia Angkatan Balai Pustaka.  Penilaian itu tidak didasarkan pada temanya, tetapi berdasarkan pemakaian bahasa dan gayanya yang tersendiri. Buku ini menggunakan bahasa melayu. Oleh karena itu, orang melayu pasti akan lebih mudah membaca dan segera mengerti isinya. Karena terkenalnya sampai-sampai zaman itu dinamai zaman Siti Nurbaya.

Roman karyanya ini berhasil pula merebut hadiah tahunan dalam bidang sastra, yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969. Dalam karya-karyanya berjudul Siti Nurbaya, Marah Rusli ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Membaca roman Siti Nurbaya kita diajak mengikuti liku-liku kehidupan masyarakat Padang pada masa itu, khususnya kisah cinta yang tak kunjung padam dari sepasang anak manusia, Siti Nurbaya dan Samsulbahri.

Perubahan yang mendasar mulai merambah desa Tanggir pada tahun 1970-an. Suara orang menumbuk padi hilang, digantikan suara mesin kilang padi. Kerbau dan sapi pun dijual karena tenaganya sudah digantikan traktor. Sementara, di desa yang sedang berubah itu muncul kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Pambudi, pemuda Tanggir yang bermaksud menyelamatkan desanya dari kecurangan kepala desa yang baru malah tersingkir ke Yogya. Di kota pelajar itu Pambudi bertemu teman lama yang memintanya meneruskan belajar sambil bekerja di sebuah toko. Melalui persuratkabaran, Pambudi melanjutkan perlawanannya terhadap kepala desa Tanggir yang curang, dan berhasil. Tetapi pemuda Tanggir itu kehilangan gadis sedesa yang dicintainya. Dan Pambudi mendapat ganti, anak pemilik toko tempatnya bekerja, meski harus mengalami pergulatan batin yang meletihkan.

Atas kehendaknya sendiri kehidupan sering memanjakan seseorang dengan cara memberinya kecantikan. Srintil, ronggeng Dukuh Paruk dan sekaligus daya hidup pedukuhan yang melarat itu, adalah salah seorang di antara mereka yang mendapat hadiah kecantikan. 

Bagi Srintil, menjadi ronggeng adalah tugas hidup yang sudah ditentukan dalam cetak biru pakem hidupnya. Namun ketika status ronggeng ternyata mengantarkannya ke rumah penjara selama dua tahun, Srintil berupaya merayap menggapai makna kehidupan yang lebih terang. Dengan kemampuan nuraninya sendiri Srintil berhasil mencapai dataran di mana dia mendapat keyakinan baru. Bahwa menjadi perempuan milik umum tidak lebih berharga daripada menjadi perempuan rumah tangga. Keyakinan baru ini dibelanya dengan keras. Dan Srintil merasa hampir menanng ketika seoranng lelaki bermartabat kelihatan menaruh minat kepadanya. Sayang, kehidupan masih ingin membanting Srintil sekali lagi; bantingan dahsyat sehingga kemanusiaan Srintil hanya tersisa pada sosok dan namanya. 

Srintil yang hancur jiwa dan raganya menggugah kesadaran Rasus, anak muda sepermainan Srintil ketika bocah. Rasus akhirnya mengerti, Srintil yang tinggal menjadi puing dan Dukuh Paruk yang melarat seumur-umur adalah amanat baginya. Srintil harus dibebaskan dari kegetiran dan Dukuh Paruk bersama puaknya tidak bisa lebih lama dibiarkan seperti apa adanya. Jentera Bianglala ini adalah buku ketiga dan terakhir dari urutan dua buku lain yang mendahuluinya, yakni Ronggeng Dukuh Paruk dan Lintang Kemukus Dini Hari


DOWNLOAD

Inilah buku ke-2 dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Pada novel ini dikisahkan seorang sosok wanita bernama Srintil, seorang ronggeng sekaligus semangat Dukuh Paruk. Meskipun dalam tradisi seorang ronggeng tidak boleh mengikatkan diri pada seorang laki-laki tetapi ternyata Srintil sudah demikian menyatu dengan Rasus, perjaka bekas teman sepermainannya. Ketika Rasus meninggalkannya jiwa Srintil terkoyak. Dia tidak menerima keadaan ini begitu saja, melainkan berontak dengan caranya sendiri. Pemberontakan jiwa Srintil menjadi faktor penentu dalam pertumbuhan kepribadiannya. Dia tegar dan berani melangkahi ketentuan-ketentuan yang telah lama mengakar dalam dunia peronggengan, terutama dalam masalah hubungan antara seorang ronggeng dan dukunnya. 

Menjelang usia dua puluh kedirian Srintil mulai teguh. Dia bermartabat, tidak lapar seperti kebanyakan orang Dukuh Paruk dan menampik laki-laki yang tidak disukainya. Rasus ditaklukannya dalam dunia angan-angan dan Srintil merasa senang. 

Sementara kecemasan abadi yang melanda setiap ronggeng adalah kemandulan. Kegersangan ini dilenyapkan oleh hadirnya Goder, seorang bayi anak tetangga yang diakui oleh Srintil secara lahir dan batin menjadi anak kandungnya. Sementara dua pengalaman penting telah menggores wilayah lintasan hidup ronggeng Dukuh Paruk itu. Pertama ketika ia menjadi gowok . Kedua ketika pada akhirnya potongan lintas hidupnya secara tidak dimengerti Srintil terlibat dalam kekalutan politik pada tahun 1965. Srintil yang bermartabat, cantik, dan masih belia harus berhadapan dengan ketentuan sejarah yang sekali pun tidak pernah dibayangkannya. 

Tidak mudah bagi seorang lelaki untuk mendapatkan kembali tempatnya di masyarakat setelah 12 tahun tinggal dalam pengasingan di Pulau B. Apalagi hati masyarakat memamng pernah dilukainya. Karman, lelaki itu, juga telah kehilangan orang-orang yang dulu selalu hadir dalam jiwanya. Istrinya telah menikah dengan lelaki lain, anaknya ada yang meninggal, dan yang tersisa tak lagi begitu mengenalnya. Karman memikul dosa sejarah yang amat berat dan dia hampir tak sanggup menanggungnya. Namun di tengah kehidupan yang hampir tertutup baginya, Karman masih bisa menemukan seberkas sinar kasih sayang. Dia dipercayai oleh Pak Haji, orang terkemuka di desanya yang pernah dikhianatinya karena dia sendiri berpaling dari Tuhan, untuk membangun kubah mesjid di desa itu. Karman merasakan menemukan dirinya kembali, menemukan martabat hidupnya.

Lasiyah, seorang perempuan berdarah campuran Jepang dan Jawa, adalah embang desa Karangsoga. Sayang, nasibnya tak secantik dan seputih parasnya. Kehidupannya bersama Darsa, seorang penyadap nira semakin buruk ketika si suami jatuh ketika sedang menyadap nira.

Kelumpuhan Darsa, terapi dukun desa si Bunek dan percobaan keperkasaan pada Sipah membawa sakit hati pada Lasi yang akhirnya lari ke Jakarta. Pertemuannya dengan Bu Koneng, Bu Lanting, membawanya pada sosok lelaki tua nan kaya raya bernama Handarbeni

Lasi, yang akhirnya dikawini Pak Handarbeni (perkawinan main-main menurut istilah Lasi), menikmati segala kemewahan materi yang tidak pernah terbayangkan oleh bekas seorang isteri penderes nira dari desa Karangsoga. Namun di balik segala kemewahan materi, penderitaan batin Lasipun amat berat. Dia merindukan desanya, emaknya, dan Kanjat, teman sepermainannya waktu sekolah yang sekarang sudah menjadi mahasiswa dan hampir lulus. Pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh lama dalam hidupnya membuat Lasi makin linglung karena berdiri di antara dua nilai kehidupan yang dipisahkan oleh jurang yang teramat dalam.

Novel ini pertama kali terbit pada 2006. Ada berbagai tanggapan ketika novel ini diterbitkan.  Penyair dan pengamat sastra asal Australia, Ian Campbell, menyebut SOSKA  sebagai ficto-criticism . Sedangkan Dr. Sumiyadi, M.Hum., dosen bahasa dan sastra Indonesia di FPBS UPI menyebut SOSKA sebagai meta-novel.
Meskipun banyak yang berpandangan bahwa SOSKA adalah novel yang bertendensi politik yang mengusung semangat surealisme dengan latar belakang era Orde Baru, pengarangnya sendiri menganggap SOSKA adalah novel cinta

Bagaimana dengan Anda? Silakan baca sendiri dengan KLIK download.

Arok Dedes adalah novel yang menolak seluruh dongeng dan mistik yang kita kenal sejak kita belajar sejarah Indonsia. Di tangan Pramoedya, cerita Arok-Dedes yang terkenal itu berubah menjadi cerita politik yang menggetarkan. Inilah roman politik yang seutuh-utuhnya. Berkisah tentang kudeta pertama yang terjadi di Nusantara. Kudeta ala Jawa. Kudeta secara diam-diam yang melibatkan peranan banyak pihak. Kudeta licik tetapi cerdik. Berdarah tetapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada mendapat penghormatan yang tinggi.

Arok adalah simpul dari gabungan antara mesin para militer licik dan politisi sipil yang cerdik-rakus (meski berasal dari kasta Sudra tetapi mampu menjadi penguasa tanah Jawa). Bagaimana strateginya? Mula-mula didekatinya kaum intelektual dan brahmana (kaum moralis) untuk mendapatkan legitimasi agama maupun sejarah dan identitas (kasta). Arok mendapatkan semua legitimasi itu  untuk mengukuhkan dirinya sebagai penyelamat rakyat dari politik Tunggul Ametung yang sewenang-wenang. Arok tak harus memperlihatkan bahwa tangannya berlumur darah mengiringi kejatuhan Tunggul Ametung, karena pilitik tak selalu identic dengan perang terbuka. Politik ibarat permainan catur yang butuh kejelian, pancingan harus tega melempar umpan untuk mendapatkan keuntungan besar. Taka da kawan dan lawan. Yang ada hanya tujuan akhir: menduduki kekuasaan, mendapatkan tahta. Pada akhirnya, novel Arok  Dedes menggambarkan peta kudeta politik yang kompleks.