Followers

Visitors

   

Sebelum kisah persahabatan Aminuddin dengan Mariamin diteruskan, baiklah kita kembali dahulu sebentar kepada kematian Sutan Baringin dan bagaimana jalannya kehidupan orang anak-beranak itu jatuh melarat, sebagai tersebut pada awal cerita ini.

Orang tua Sutan Baringin masuk golongan orang kaya diantara penduduk Sipirok. Hanya ia sendirilah anak orang tuanya yang laki-laki. Sebagai acap kali kejadian akan tabiat anak tunggal itu, adalah amat manja dan nakal pada waktu ia masih anak-anak, karena barang apa kesukaannya selamanya dituruti orang tuanya. Meskipun ia salah atau kelakuannya tidak baik, jaranglah ia dimarahi orang tuanya, apalagi kena pukul jangan dikata lagi. Kalau bapaknya marah kepadanya karena nakalnya, ibunyapun datang menarik dia dari hadapan bapaknya, seraya berkata, “Salah sedikit sudah mau dihantam; kelakuan bapak apakah demikian kepada anaknya ? tiadakah engkau tahu, ia hanya sendiri saja yang laki-laki ?”

Tohir, demikianlah nama anak itu pada waktu kecilnya, makin lama makin besarlah. Akan tetapi tiadalah ia anak yang baik dan penurut kepada orang tuanya. Sehari-hari ia menjadi pokok pertengkaran diantara ayah dan ibunya dan ia pun tiada mendapat didikan yang baik, karena ibunya selalu memanjakan dia dan suatu pun tiada dapat si bapak berusaha akan memimpin anaknya itu, supaya menjadi orang yang baik di belakang hari. Ia amat bersusah hati karena semua pekerjaannya percuma dan anaknya semakin nakal dan bengis kelakuannya. Yang menyebabkan itu semua tiada lain dari sebab perbuatan istrinya. Kadang-kadang ia marah kepada ibu si Tohir serta katanya, “Jangan dibiarkan anak kita itu sebagai anak yang tiada mempunyai orang tua, yang memberi pengajaran yang baik bagi dia." 


0 comments

Post a Comment