Perubahan yang mendasar mulai merambah desa Tanggir pada tahun 1970-an. Suara orang menumbuk padi hilang, digantikan suara mesin kilang padi. Kerbau dan sapi pun dijual karena tenaganya sudah digantikan traktor. Sementara, di desa yang sedang berubah itu muncul kemelut akibat pemilihan kepala desa yang tidak jujur. Pambudi, pemuda Tanggir yang bermaksud menyelamatkan desanya dari kecurangan kepala desa yang baru malah tersingkir ke Yogya. Di kota pelajar itu Pambudi bertemu teman lama yang memintanya meneruskan belajar sambil bekerja di sebuah toko. Melalui persuratkabaran, Pambudi melanjutkan perlawanannya terhadap kepala desa Tanggir yang curang, dan berhasil. Tetapi pemuda Tanggir itu kehilangan gadis sedesa yang dicintainya. Dan Pambudi mendapat ganti, anak pemilik toko tempatnya bekerja, meski harus mengalami pergulatan batin yang meletihkan.
Showing posts with label Ahmad Tohari. Show all posts
Showing posts with label Ahmad Tohari. Show all posts
Atas kehendaknya sendiri kehidupan sering memanjakan seseorang dengan cara memberinya kecantikan. Srintil, ronggeng Dukuh Paruk dan sekaligus daya hidup pedukuhan yang melarat itu, adalah salah seorang di antara mereka yang mendapat hadiah kecantikan.
Bagi Srintil, menjadi ronggeng adalah tugas hidup yang sudah ditentukan dalam cetak biru pakem hidupnya. Namun ketika status ronggeng ternyata mengantarkannya ke rumah penjara selama dua tahun, Srintil berupaya merayap menggapai makna kehidupan yang lebih terang. Dengan kemampuan nuraninya sendiri Srintil berhasil mencapai dataran di mana dia mendapat keyakinan baru. Bahwa menjadi perempuan milik umum tidak lebih berharga daripada menjadi perempuan rumah tangga. Keyakinan baru ini dibelanya dengan keras. Dan Srintil merasa hampir menanng ketika seoranng lelaki bermartabat kelihatan menaruh minat kepadanya. Sayang, kehidupan masih ingin membanting Srintil sekali lagi; bantingan dahsyat sehingga kemanusiaan Srintil hanya tersisa pada sosok dan namanya.
Srintil yang hancur jiwa dan raganya menggugah kesadaran Rasus, anak muda sepermainan Srintil ketika bocah. Rasus akhirnya mengerti, Srintil yang tinggal menjadi puing dan Dukuh Paruk yang melarat seumur-umur adalah amanat baginya. Srintil harus dibebaskan dari kegetiran dan Dukuh Paruk bersama puaknya tidak bisa lebih lama dibiarkan seperti apa adanya. Jentera Bianglala ini adalah buku ketiga dan terakhir dari urutan dua buku lain yang mendahuluinya, yakni Ronggeng Dukuh Paruk dan Lintang Kemukus Dini Hari
DOWNLOAD
Inilah buku ke-2 dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Pada novel ini dikisahkan seorang sosok wanita bernama Srintil, seorang ronggeng sekaligus semangat Dukuh Paruk. Meskipun dalam tradisi seorang ronggeng tidak boleh mengikatkan diri pada seorang laki-laki tetapi ternyata Srintil sudah demikian menyatu dengan Rasus, perjaka bekas teman sepermainannya. Ketika Rasus meninggalkannya jiwa Srintil terkoyak. Dia tidak menerima keadaan ini begitu saja, melainkan berontak dengan caranya sendiri. Pemberontakan jiwa Srintil menjadi faktor penentu dalam pertumbuhan kepribadiannya. Dia tegar dan berani melangkahi ketentuan-ketentuan yang telah lama mengakar dalam dunia peronggengan, terutama dalam masalah hubungan antara seorang ronggeng dan dukunnya.
Menjelang usia dua puluh kedirian Srintil mulai teguh. Dia bermartabat, tidak lapar seperti kebanyakan orang Dukuh Paruk dan menampik laki-laki yang tidak disukainya. Rasus ditaklukannya dalam dunia angan-angan dan Srintil merasa senang.
Sementara kecemasan abadi yang melanda setiap ronggeng adalah kemandulan. Kegersangan ini dilenyapkan oleh hadirnya Goder, seorang bayi anak tetangga yang diakui oleh Srintil secara lahir dan batin menjadi anak kandungnya. Sementara dua pengalaman penting telah menggores wilayah lintasan hidup ronggeng Dukuh Paruk itu. Pertama ketika ia menjadi gowok . Kedua ketika pada akhirnya potongan lintas hidupnya secara tidak dimengerti Srintil terlibat dalam kekalutan politik pada tahun 1965. Srintil yang bermartabat, cantik, dan masih belia harus berhadapan dengan ketentuan sejarah yang sekali pun tidak pernah dibayangkannya.
Tidak mudah bagi seorang lelaki untuk mendapatkan kembali tempatnya di masyarakat setelah 12 tahun tinggal dalam pengasingan di Pulau B. Apalagi hati masyarakat memamng pernah dilukainya. Karman, lelaki itu, juga telah kehilangan orang-orang yang dulu selalu hadir dalam jiwanya. Istrinya telah menikah dengan lelaki lain, anaknya ada yang meninggal, dan yang tersisa tak lagi begitu mengenalnya. Karman memikul dosa sejarah yang amat berat dan dia hampir tak sanggup menanggungnya. Namun di tengah kehidupan yang hampir tertutup baginya, Karman masih bisa menemukan seberkas sinar kasih sayang. Dia dipercayai oleh Pak Haji, orang terkemuka di desanya yang pernah dikhianatinya karena dia sendiri berpaling dari Tuhan, untuk membangun kubah mesjid di desa itu. Karman merasakan menemukan dirinya kembali, menemukan martabat hidupnya.
Lasiyah, seorang perempuan berdarah campuran Jepang dan Jawa, adalah embang desa Karangsoga. Sayang, nasibnya tak secantik dan seputih parasnya. Kehidupannya bersama Darsa, seorang penyadap nira semakin buruk ketika si suami jatuh ketika sedang menyadap nira.
Kelumpuhan Darsa, terapi dukun desa si Bunek dan percobaan keperkasaan pada Sipah membawa sakit hati pada Lasi yang akhirnya lari ke Jakarta. Pertemuannya dengan Bu Koneng, Bu Lanting, membawanya pada sosok lelaki tua nan kaya raya bernama Handarbeni
Lasi, yang akhirnya dikawini Pak Handarbeni (perkawinan main-main menurut istilah Lasi), menikmati segala kemewahan materi yang tidak pernah terbayangkan oleh bekas seorang isteri penderes nira dari desa Karangsoga. Namun di balik segala kemewahan materi, penderitaan batin Lasipun amat berat. Dia merindukan desanya, emaknya, dan Kanjat, teman sepermainannya waktu sekolah yang sekarang sudah menjadi mahasiswa dan hampir lulus. Pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh lama dalam hidupnya membuat Lasi makin linglung karena berdiri di antara dua nilai kehidupan yang dipisahkan oleh jurang yang teramat dalam.
“Jangkrik, gangsir, walang kerik sudah lama bungkam. Gangsir menyembunyikan diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada embusan angin. Pada saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap sehingga terjadi suara yang khas”. “Tiga ujung kulup terarah pada titik yang sama. Currr. Kemudian Rasus, Warta, dan Darsun berpandangan. Ketiganya mengusap telapak tangan masing-masing. Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali”
Novel ini merupakan buku pertama dari trilogi ronggeng Ahmad Tohari. Ronggeng Dukuh Paruh: catatan buat emak”, menceritakan bagaimana awal mula Srinthil bisa menjadi ronggeng, setelah Dukuh Paruk menunggu kehadiran seorang ronggeng baru selama dua belas tahun. Ronggeng terakhir mereka ikut tewas dalam tragedi tempe bongkrek.Indang telah merasuk ke tubuh Srinthil, membuat Srinthil menjadi seorang ronggeng sejati. Pertemanan antara Srinthil dan Rasus telah menimbulkan rasa cinta di antara mereka, dan Srinthil menyerahkan keperawanannya kepada Rasus sebelum malam bukak klambu, dan hanya mereka berdua yang tahu. Rasus sendiri selalu mencari sosok Emaknya yang ikut tewas dalam tragedy tempe bongkrek. Kecewa karena Dukuh Paruk merebut Srinthilnya, Rasus pergi meninggalkan Dukuh Paruk untuk kemudian menjadi tentara. Rasus juga menolak perkawinan yang ditawarkan Srinthil, dan memberikan Dukuh Paruk apa yang paling berharga buat mereka : seorang ronggeng.





