Followers

Visitors

blog-indonesia.com
   
Showing posts with label Naskah Teater. Show all posts
Showing posts with label Naskah Teater. Show all posts

Suatu hari, secara tak sengaja Sarimin menemukan selembar Kartu Tanda Penduduk (KTP). Lantaran buta huruf, Sarimin tidak tahu siapa pemilik KTP tersebut. Dengan lugu dan berbekal niat baik, Sarimin menyerahkan KTP tersebut ke kantor polisi. Maksudnya agar kelak polisi saja yang mengantarkan ke pemiliknya.

Namun, sial sekali Sarimin. Di kantor polisi itu alih-alih mendapat pujian karena telah berbuat baik, ia malah mendapat masalah. Petugas polisi yang menerimanya justru mempersulit urusan dengan berusaha memeras Sarimin dan mengancam akan mengurungnya di penjara, sebab ternyata KTP itu kepunyaan Hakim Agung. Sarimin dituduh sebagai pencuri karena tidak segera mengembalikannya.

Sarimin yang malang tak bisa membela diri. Akibatnya secara semena-mena ia dijebloskan ke sel tahanan. Pengacara yang ditunjuk untuk membelanya malah sibuk mencari popularitas sendiri. Sarimin hanya bisa menangis dan meratapi nasib. Sungguh, hukum dan keadilan bukan milik orang kecil seperti dirinya.

Aku harus berhasil, harus berusaha keras menggali kubur ini dengan tanganku, biarpun tangan ini lecet, kotor, tak apa. Sakit ini hanya untuk sementara. Tetapi lihat saja hasilnya nanti, kalau aku sudah berhasil menggigit kedua telinga mayat ini, oh… lihat saja. Aku pasti akan kaya raya. Aku pasti bisa mendandani istriku dengan sepasang subang emas berlian di telinganya.

Suara itu berulang-ulang dan sampai pada puncak kemarahan dengan nada suara tinggi. Di puncak kemarahan, lampu blackout, Suara orang-orang fade out

Nasib memang tidak pernah berpihak pada orang susah. Roda memang bisa berputar, tetapi roda milikku macet. Sehingga aku selalu di bawah.

Hari Besar. Hari ini aku merayakan berangkatnya suatu watak besar ke kerajaan tiada batas. Watak kecil harus selamat tinggal. Peranannya terdiri atas cuma mengucapkan kata-kata “Selamat tinggal!” saja. Sesudah itu ia mesti menghilang lagi. Lari ke belakang layar, terus ke jalan raya. Di situlah wajahnya. Sesekali ia memperkenankan dirinya libur ke kakilima-kakilima, menyorakkan “eli eli lama sabachtani” kepada setiap orang yang lalu, yang berangkat.

Itulah duka ceritamu, Pahlawan. Kau tak lagi puas dengan ukuranmu yang kecil. Kau ingin memperbesarnya dengan menyatukan diri dengan pengertian-pengertian, seperti “mengejar”, “memburu”. Darimana kauperoleh hak berbuat demikian, sedang “mengikut” saja tak pernah kaulakukan? Tidak, Pahlawan. Mengejar, bahkan mengikuti dari belakang adalah hak-hak istimewa yang hanya dikaruniakan dewa-dewa kepada mereka yang sudah mengalami kenikmatan berangkat. Dari mengucapkan “selamat tinggal”. Tahukah kau, bagaimana sikap seseorang yang berangkat? Ia menjabat tangan-tangan kerdil kotor dan berbau kesetiaan harian dari mereka yang tinggal. Bila perlu, ini dilakukannya dengan iringan senyum palsu di mulutnya. Senyum ini perlu untuk menenteramkan mereka agar sabar dengan hasilnya. Kedok seperti ini perlu bagi mereka yang tinggal. Sebab segera ia berangkat, manusia-manusia yang tinggal ini meletuskan perang saudara. Kedok itu mereka perebutkan. Bila Magrib tiba, pulanglah mereka ke rumahnya masing-masing. Sambil membaca mantera-mantera dan jampi-jampi, mereka gulung sobekan-sobekan kedok tadi menjadi azimat. Azimat baru! Bila anjing melengkingkan gonggongan terakhirnya, mengantar binatang berangkat dini hari, dengan rahasia digoreskannyalah sebuah kata pada azimat itu.


“Mira! Selama perempuan dilahirkan ke dunia untuk jadi kawan hidup laki-laki, selama itu aku harus dan mesti berusaha untuk dapat penyerahkan kepercayaan pada orang lain yang akan kujadikan kawan hidupku. Dan bagiku sekarang sudah jelas bahwa kau dengan duniamu yang tidak sempit adalah manusia yang kucari-cari selama ini”
Saya tukang kopi, Mas!”
Kau dengan jiwamu yang penuh berisi kehidupan adalah paduan dari keindahan surga yang kuimpikan dan kepahitan dunia yang kurasakan. Kaulah wujud wanita utama.”
“Oh, kau memuji? Tetapi siapa mau percaya bahwa di dunia sekarang ada manusia yang lebih mencintai orang lain daripada mencintai dirinya sendiri?”
“Siapa pula yang percaya? Engkau tidak. Aku pun tidak. Tetapi untukmu aku akan mencoba.”
“Tetapi sekarang Mas lebih baik pulang. Ibu saya sudah tidur. Dan sebentar lagi kedai ini akan ditutup.”
“Kalau kedai ditutup, kau akan kubawa. Dan kalau kau tidak dapat dibawa, aku akan ikut ditutup di dalam kedai.”
“Itu tidak bisa.”
“Kalau begitu, kedai ini jangan ditutup!”
“Jadi Mas akan menyiksa orang lain? Menyiksa saya? Itukah percobaan Mas di dalam hendak menunjukkan bahwa Mas lebih mencintai orang lain daripada mencintai diri sendiri?”

Drama satu babak Awal dan Mira karya Utuy Tatang Sontani yang menggambarkan kisah cinta dua anak manusia yang diwarnai teka-teki dan berakhir tragis dalam perang. Drama ini pernah mendapat penghargaan sebagai drama terbaik tahun 1952 dari BMKN. Sayang sekali, sangat susah mencari drama ini. Jadi, jika Anda tertarik silakan download ebooknya.


Ketika Majapahit runtuh (1527), Jawa menjadi daerah yang tidak bertuan dan tidak mengenal satu kekuasaan tunggal. Pada saat yang bersamaan pula, Wali Sanga mulai menyebarkan Islam melalui pesisir Utara dan Portugis telah datang ke Sunda Kelapa. Kekuasaan tak berpusat tersebar praktis di seluruh Jawa, menyebabkan keadaan kacau balau. Perang yang terus menerus untuk merebut kekuasaan tunggal membuat Pulau Jawa bermandikan darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng.
Adalah Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram dan mendirikan Kota Gede pada 1577. Kemudian Panembahan Senapati, anak Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram. Saat bersamaan muncul pula sebuah daerah Perdikan Mangir dengan pemimpinnya yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya. Seperti layaknya daerah-daerah lain di Jawa, pertempuran perebutan kekuasaan pun tidak terelakkan, demikian pula antara Mangir dan Mataram. Hal ini sangat dimungkinkan karena letak Perdikan Mangir dan Mataram yang sangat berdekatan, sekitar ± 30 km. Maka persaingan antara dua kekuasaan tersebut menjadi tidak terelakkan lagi, terlebih dengan usaha penggenapan janji Ki Ageng Pamanahan kepada Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya) untuk menguasai sepenuhnya Mataram.
Pada akhirnya Mangir kalah setelah Ki Ageng Mangir mati di tangan Panembahan Senapati sewaktu menghadap bersama Sekar Pembayun dalam sebuah perkawinan rekayasa yang dibuat oleh Mataram dalam rangka menghancurkan kekuasaan Mangir dan daerah-daerah lain yang turut membantu Mangir