Followers

Visitors

blog-indonesia.com
   
Showing posts with label Terjemahan. Show all posts
Showing posts with label Terjemahan. Show all posts

Pada zaman Cina Kuno, semasa kekuasaan Dinasti Han, seorang gadis budak menyelamatkan hidup seekor naga dan melarikan diri dari tuannya yang jahat. Dikejar seorang pemburu naga yang kejam, si gadis dan naga menempuh perjalanan panjang melintasi Cina dengan membawa batu misterius yang harus dilindungi.


Inilah kisah si gadis budak yang semula merasa dirinya tak cukup berharga untuk mempunyai nama, namun kelak menemukan kekuatan dan keberanian dalam dirinya untuk menempuh perjalanan berat penuh bahaya.


Novel karya Carole Wilkinson ini telah menerima beberapa penghargaan seperti Kalbacher Klapperschlange (German Book Choice Award) tahun 2006, Australia Book of the Year Award (2004), Queensland Premier's Literary Award (2004) dan Winner Aurealis Award for Young Adults. (2003)

Novel To Kill a Mockingbird karya Harper Lee memenangi Pulitzer pada 1961 berkisah tentang orang tua dan putra-putrinya di Alabama ini banyak mengajarkan bagaimana menjalani peran dalam posisi masing-masing. Jika selama ini, orang tua dan anak sekaligus, lebih banyak yang memiliki mindset bahwa anak adalah objek dalam hubungan dengan keluarga, di sini kita akan dikenalkan dengan keterbukaan yang sangat. Bahwa anak, sedini apa pun usia mereka, memiliki hak untuk mengetahui apa yang terjadi dalam keluarganya.

Adalah Atticus Finch, ayah seorang putra dan putri, Jeremy Finch dan Jeane Louis alias Scout, yang mendidik mereka untuk bertanggung jawab atas setiap hal yang terjadi pada diri mereka sendiri dan di rumah. Novel ini ditulis dari sisi Scout, seorang gadis berusia delapan tahun. Abangnya, Jeremy alias Jem, berusia sekitar lima tahun di atasnya dan ayahnya seorang pengacara yang membela orang kulit hitam. Warna kulit yang saat itu masih berada dalam level kelas bawahan alias budak yang sangat parah.

Mereka tinggal di sebuah perumahan di salah satu kota di Alabama. Scout selalu merasa bahwa ayahnya bersikap sangat adil terhadap dia dan abangnya. Mulai dari menyikapi tingkah lakunya yang kekanakkan, karena dia memang anak-anak, sampai pada hal di mana dia harus bertanggung jawab penuh atas apa yang dia lakukan. Termasuk bagaimana ayahnya menjelaskan apa yang sedang dia lakukan dalam pembelaan terhadap seorang warga kulit hitam yang tersangkut hukum. Saat itu, Scout dan Jem dicela oleh semua anak seusia mereka, bahkan orang tua, atas tindakan Atticus membela orang kulit hitam yang dinilai nista.
Kondisi itu melibatkan benturan fisik, dan psikologis (mental) bagi Jem dan Scout. Tapi ayah mereka, Atticus, dengan tenang dan cerdas menjelaskan bahwa dirinya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Scout dan Jem pun tumbuh menjadi anak yang lebih cerdas dan terbuka di usianya yang masih belia. Bahkan Scout harus merasa bosan di tahun pertama dan seterusnya sekolah karena dia harus menahan diri untuk mempelajari sesuatu di sekolah. Padahal di rumah, dia sudah mahir membaca koran yang menjadi langganan Atticus.

Jangan cuma mencintai atau mencampakkan seseorang. Galilah sembilan tipe kepribadian dan temukan dirinya menjadi kekasih, belahan jiwa, mitra, atau kolega yang sempurna bagi Anda! Renee Baron dan Elizabeth Wagele menawarkan pendekatan jenaka bagi pergaulan Anda. Juga cara menemukan mitra yang tepat, memperbaiki hubungan, dan memahami orang-orang sehingga Anda tak salah menempatkan diri.

Eneagram—sistem penggolongan kepribadian yang kian dikenal luas— menjelaskan mengapa kita memiliki perilaku tertentu. Ia juga menyediakan sarana penting untuk memahami jati diri dan meraih wawasan. Buku ini mengupas kesembilan tipe kepribadian itu dan bagaimana interaksinya dalam percintaan, pekerjaan, keluarga, dan persahabatan. Setiap bab berisi perincian menarik, kartun jenaka, tes-kepribadian yang sederhana, dan contoh “pasangan-pasangan terkenal” dari setiap tipe. Semua disajikan ringkas dan praktis untuk membantu Anda menemukan dan menghargai tipe Anda sendiri dan serta orang-orang yang sedang, atau akan Anda pergauli. 

The White Castle adalah novel historis karya peraih nobel sastra 2006 – Orhan Pamuk yang berutur mengenai jati diri, pertentangan dan persahabatan antara seorang budak Italia dengan seorang cendekiawan Ottoman di abad ke 17. Kisah yang ditulis menurut sudut pandang pemuda Italia terpelajar sebagai narator (namanya tak pernah disebutkan hingga akhir) diawali ketika ia sedang berlayar dari Venesia menuju Napoli. Di tengah perjalanan, kapalnya berpapasan dengan armada perompak Turki sehingga dirinya ditangkap dan dibawa ke Istanbul sebagai tawanan. Karena keahliannya dalam berbagai hal, termasuk mampu mengobati tawanan lainnya, ia mendapat perlakuan istimewa dibanding tahanan lainnya.
Kabar tentang keahliannya menyembuhkan penyakit sampai ke telinga seorang Pasha yang meminta dirinya untuk menyembuhkan sang Pasha yang sedang sakit. Si pemuda Italia berhasil menyembuhkan sang Pasha, namun ia tetap sebagai seorang tawanan dan tinggal dalam penjara. Suatu saat si pemuda Italia kembali dipanggil ke Istana Pasha. Ia dipertemukan dengan seseorang yang biasa dipanggil oleh Pasha sebagai "Hoja" yang berarti "guru". Begitu terkejutnya si pemuda Italia karena orang yang dipangil Hoja itu sangat mirip dengan dirinya. Karena Pasha mendapat kabar bahwa si pemuda Italia adalah seorang cendekiawan yang mahir akan berbagai ilmu pengetahuan, ia ditugasi untuk membantu Hoja mempersiapkan pertunjukan kembang api yang megah untuk perayaan pernikahan Pasha.
Pertunjukkan itu sukses. Si pemuda Italia kembali dimasukkan kedalam sel penjara. Beberapa hari kemudian si pemuda Italia kembali dipanggil oleh Pasha ke istananya. Pasha menawarkan pilihan hukuman mati atau kebebasan baginya asal ia bersedia menjadi seorang Muslim. Namun ia tak bersedia mengubah kepercayaannya walau harus mempertaruhkan kepalanya dihadapan algojo. Walau si pemuda Italia tetap tak bersedia menjadi seorang Mulsim, sang Pasha tak jadi menghukumnya, melainkan memberikannya pada Hoja untuk dijadikan seorang budak. Sebagai budaknya, Hoja, sang cendekiawan Ottoman yang haus akan pengetahuan Barat, memerintahkan budaknya (pemuda Italia) untuk menurunkan segala pengetahuannya padanya. Dan mulailah si budak mengajarkan semua kepandaiannya dalam hal astronomi, kedokteran, teknik dll. 
The White Castle (Beyaz Kale) adalah novel hisoris yang merupakan novel ketiga Orhan Pamuk yang diterbitkan pada tahun 1985 dan merupakan karya pertama Pamuk yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Yang jelas, novel ini tampaknya membuat kita melakukan perenungan diri akan makna jati diri. Secara tidak disadari kita sering ingin menjadi orang lain, terlebih orang yang kita kagumi baik secara intelektual maupun secara pribadi. Namun pertanyaannya apakah menjalani kehidupan sebagai orang lain memang bisa membuat kita bahagia?

Istanbul adalah memoar dari peraih nobel sastra 2006 asal Turki, Orhan Pamuk. Namun berbeda dengan memoar-memoar lainnya yang biasanya lebih mengutamakan kisah hidup si penulisnya, dalam memoarnya ini Pamuk tak hanya berkisah mengenai sejarah hidupnya. Dengan cara betutur seperti dalam novel-novelnya, Pamuk mencatat penggalan memori kehidupan masa lalunya yang dikaitkan dengan memori kolektif Istanbul, kota kelahirannya yang begitu ia cintai. Jadi bisa disimpulkan bahwa buku ini merupakan serpihan-serpihan memoar dan essai panjang Pamuk tentang dirinya dan Istanbul

Bagi Pamuk yang begitu lekat dengan kota kelahirannya, takdir Istanbul adalah takdir dirinya sebab Istanbullah yang membuat dirinya seperti sekarang ini. Istanbul baginya adalah mata air yang terus menerus memberinya inspirasi. Tak heran jika sebagian besar novel-novelnya berlatar Istanbul, kota yang merupakan warisan kesultanan Usmani yang tak henti bergumul dengan identitas Barat dan Timur. Begitupun dalam memoarnya ini, di mata Pamuk, Istanbul dimetaforkan sebagai mahluk yang berwajah murung, atau istilah dalam bahasa arabnya adalah “huzun”.

Seperti yang ditulis oleh Irish Times sebagai pujian untuk buku ini bahwa memoar Pamuk ini layak disejajarkan dengan karya-karya terbaik Pamuk dan buku-buku terbaik yang pernah ditulis mengenai Istanbul.

Novel karya Kethy Reichs ini berkisah tentang Temperance Brennan, seorang ahli antropologi forensik, diminta mengidentifikasi jenazah seorang biarawati yang telah meninggal lebih dari satu abad. Tugas yang dibebankan kepadanya oleh keuskupan di Montreal ini tampaknya sebuah tugas yang sederhana dan menarik. Tugas tersebut ternyata memiliki titik singgung dengan tugas berikutnya yang menyeretnya ke dalam petualangan yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya. Peristiwa demi peristiwa yang muncul silih berganti membawanya ke dalam jalinan misteri yang mengerikan dan sejumlah pembunuhan yang kekejamannya jauh melebihi batas-batas akal sehat manusia.

Semuanya diawali oleh usaha pengidentifikasian tulang-belulang sejumlah korban pembunuhan di sebuah rumah yang terbakar hebat di tengah bekunya cuaca di Quebec, Kanada. Salah satu korban adalah seorang nenek berusia 80-an tahun yang tewas ditembak, serta sepasang pria dan wanita serta dua bayi yang dibantai dengan cara yang membuat bulu kuduk merinding.

Satu sosok lagi ditemukan dalam kondisi yang lebih mengenaskan. Selain itu, dua mayat wanita ditemukan pula di sebuah pulau surga bagi primata di North Carolina, dengan kondisi yang sama. Menghilangnya dua orang wanita, yang salah satu di antaranya adalah adiknya sendiri, menyebabkan benang misteri dirasakan semakin kusut saja. Semua kejadian itu menyediakan berbagai petunjuk yang harus ditelaahnya dengan cermat dan teliti agar mampu mengungkapkan cerita di balik misteri itu. Dengan mengandalkan kemampuan analisis forensik serta bantuan rekan-rekan akademisinya, termasuk detektif Andrew Ryan yang telah memikat hatinya, Brennan dipaksa berpacu dengan waktu untuk memecahkan misteri ini. Sebelum terjadi malapetaka yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lebih banyak lagi. Unjuk kehebatan yang membuat bulu kuduk berdiri dan menegangkan. Brennan adalah pemenangnya, begitu juga dengan Reichs sang pengarang.

Novel karya Kathleen McGowan ini mirip sekali dengan apa yang pernah ditulis Dan Brown dalam ‘The Da Vinci Code’, namun novel ini berfokus kepada Maria Magdalena, yang dalam banyak literatur diklaim sebagai istri sah Yesus Kristus.

Kathleen McGowan, penulis ‘The Expected One’ menulis novel ini setelah melakukan riset ke berbagai negara di Timur Tengah dan mempelajari banyak dokumen serta mewawancarai banyak informan dan nara sumber terkait kehidupan Maria Magdalena. 

Wanita Irlandia ini juga konon memiliki garis darah dari Yohannes Pembaptis, sepupu Yesus. Sejak kecil, Kathleen sering mengalami visi ilahiah, di mana dia seakan-akan bisa melihat sesuatu yang sudah dan akan terjadi berkaitan dengan kehidupan religiusnya. Pengalaman inilah yang memacu Kathleen mengadakan perjalanan panjang dan melakukan riset untuk menulis novel ini. Di novel ini, penulis mengisahkannya sebagai perjalanan menemukan Injil Maria Magdalena.

Seperti terang-terangan disampaikannya, Kathleen memang memiliki misi memperbaiki citra Maria Magdalena yang selama ini dikenal sebagai seorang pelacur. Lewat novel ini, semuanya menjadi jelas kenapa para penulis Injil memutuskan menggunakan persepsi itu bagi Maria Magdalena. Permusuhan politis, cinta segitiga yang rumit, dan misteri Injil Maria Magdalena diramu menjadi sebuah fiksi yang luar biasa.

Ini adalah sebuah fiksi tetapi kisah di dalamnya sangat real. Charles Epping menulis novelnya berdasarkan data dan fakta plus riset yang mendalam. Sebuah fiksi yang bercerita tentang pencucian uang (money laundry), gambaran dan alas an-alasan mengapa orang-orang kaya di sunia senang meyimpan uangnya di bank-bank di Swiss. Mengapa pula para koruptor yang menyimpan uang di sana tidak bisa disentuh hukum dan uangnya tak bisa dicairkan?

Lewat buku ini pula kita bisa menyimak kekejaman Nazi pada waktu itu, gambaran situasi Eropa, kerja para investor yang dipercaya untuk mengelola dana, hingga upaya orang-orang Yahudi melindungi harta kekayaannya agar selamat selamat dan bisa dinikmati pewaris yang sah.

Hidup Lilly adalah taman keberagaman. Orang tuanya pengelana sejati asal Eropa. Lilly lahir di Yugoslavia, disusui di Ukraina, disapih di Corsica, berhenti menggunakan popok di Sisilia, dan mulai bisa berjalan di Al-Gharb. Saat sudah nyaman berbahasa Prancis, bersama orang tuanya, Lilly pindah ke Spanyol. Ketika mulai punya sahabat baru, dunia Lilly harus dipenuhi oleh orang asing. Hidup Lilly hampir berhenti ketika kedua orang tuanya meninggal tanpa sebab yang jelas. Beruntung, ada Abdal Akbar, penganut sufi asal Maroko, yang bersedia melindunginya. Abdal mendidiknya dengan pengetahuan Islam. 

Menjelang dewasa, bersama Hussein, yang dianggapnya kakak, Lilly hijrah ke Harar, Ethiopia, untuk mendapat pengajaran dari Syekh Jami. Namun, di kota suci bertembok tempat bermukim para wali itu, bukan ilmu penuh kasih yang didapatinya. Syekh membenci kaum farenji, kaum berkulit putih seperti Lilly. Demi mengambil hati sang Syekh, ia harus menjalani hidup zuhud bersama masyarakat setempat. Hidup penuh kekurangan untuk mengalahkan nafsu duniawi. 

Di keluarga Noura, si janda miskin beranak tiga, Lilly harus mengikuti tradisi Harar. Ia mendeskripsikan pelbagai ritual masyarakat setempat dengan sangat terperinci, mulai acara kumpul-kumpul khas masyarakat Harar; menikmati buna, kopi khas olahan Harar; mengunyah daun qat yang pahit; hingga upacara absuma, upacara khitan untuk anak perempuan, yang sangat mengerikan. Tapi, justru dari tragedi absuma, Lilly mengenal dokter Aziz Abdulnasser, yang idealis, cinta dalam hidupnya. 

Pada 1984, ketika setengah juta orang mati kelaparan, setengah juta lagi meninggalkan Ethiopia, Lilly ikut ke London. Ia pun terpaksa meninggalkan anak-anak didiknya dan hatinya yang telah terpaut pada dokter Aziz Abdulnasser. Di London, kehidupan Lilly tak lebih baik. Ia tetap dianggap kelas dua karena agama dan lingkungan Afrikanya. Ada banyak kombinasi konflik dalam hidup Lilly, banyak perubahan, kecuali satu hal satu, agama yang dipeluknya. 

Begitulah kisah hidup Lilly, tokoh utama dalam novel Lilly, Pencarian Cinta Seorang Gadis Eropa di Ethiopia karya Camilla Gibb. 


Angels and Demons (Malaikat dan Iblis) adalah novel misteri best-seller karya novelis Amerika Serikat Dan Brown yang diterbitkan pada tahun 2000. Novel ini memperkenalkan tokoh Robert Langdon, yang juga kemudian menjadi tokoh utama pada novel Dan Brown yang lebih dikenal, The Da Vinci Code.
Sebenarnya buku ini merupakan prequel dari The Da Vinci Code. Dalam pengantarnya, Dan Brown menulis bahwa di buku inilah karakter Robert Langdon tercipta. Sebagai informasi, Malaikat dan Iblis adalah buku ke-2 karya Dan Brown, sedangkan The Da Vinci Code adalah buku ke-4. Ceritanya dibuka dengan pembunuhan Leonardo Vettra seorang fisikawan dari lembaga riset CERN di laboratoriumnya. Plot cerita kemudian beralih ke kediaman Robert Langdon, di mana Langdon menerima kiriman fax yang berisi gambar mayat Leonardo Vettra. 
Kunjungi juga website penerbit ebooknya di www.ebookmall.com    DOWNLOAD

Buku ini adalah salah satu buku terlaris di dunia dengan 36 juta eksemplar (hingga Agustus 2005) dan telah diterjemahkan ke dalam 44 bahasa, termasuk Indonesia. Di Indonesia diterbitkan oleh penerbit Serambi Ilmu Semesta (ISBN 979335807) pada tahun 2004. 
Leonardo Da Vinci identik dengan lukisan monalisa yang melegenda. Ia adalah manusia jenius pemilik IQ 190. Bahkan, seorang Albert Einstein pun tidak dapat menandingi kejeniusannya. (Einstein kalah 30 point di bawah Da Vinci). Karena jeniusnya, sampai-sampai karya yang telah diciptakannya memiliki sandi-sandi tertentu yang hingga sekarang sedang dicari apa maknanya. 
Menggabungkan gaya detektif, thriller dan teori konspirasi, novel ini telah membantu mempopulerkan perhatian terhadap sebuah teori-teori tentang legenda Piala Suci (Holy Grail). Kunjungi juga website penerbit ebooknya di www.ebookmall.com. 

Novel DIGITAL FORTRESS (Benteng Digital) karya Dan Brown ini bercerita tentang kode rahasia yang tidak bisa dipecahkan. Susan Fletcher adalah matematikawan jenius yang bekerja sebagai kepala divisi kriptografi National Security Agency (NSA). Fletcher berhadapan dengan kode yang tidak bisa dipecahkan oleh komputer super NSA. Kode ini ditulis oleh Ensei Tankado, kriptografer Jepang mantan anggota NSA, yang tidak senang dengan cara-cara NSA memata-matai privasi masyarakat. Kunjungi juga website penerbit ebooknya di www.ebookmall.com

Aku telah menemukan kesenangan dalam sakit. Kesenangan ini dengan segala pengaruhnya, berbeda dari segala kesenangan yang lain. Aku telah menemukan semacam ketentraman yang membuat aku mencintai sakitku. Orang sakit itu selamat dari persaingan manusia, tuntutan, kencan janji, pembicaraan yang ngelantur serta dering telepon. Aku telah menemukan kenikmatan yang lain lewat sakit ini yang lebih penting dan tak ternilai. Aku menemukan diriku lebih dekat kepada hal-hal yang abstrak dalam sakitku ini daripada dalam sehat. Manakala aku meletakkan kepalaku di bantal dan menutup mataku dan melupakan segala urusan duniawi, aku menemukan diriku sedang melayang-layang laksana seekor burung menjelajahi lembah-lembah dan rimba raya yang tentram, yang terbungkus dalam selubung yang lembut. Aku dapatkan diriku akrab dengan mereka yang aku cintai, seraya menyeru dan bercakap dengan mereka, tetapi tanpa marah, dan dengan perasaan seperti yang mereka rasakan, dengan pikiran seperti yang mereka pikirkan. Kadang-kadang mereka meletakkan tangannya pada dahiku untuk memberkati.
Aku ingin menjalani sakitku di Mesir atau di kampung halamanku, agar aku bisa dekat dengan orang-orang yang kucintai. Tahukah kau, May, bahwa setiap pagi maupun senja hari aku merasa seolah diriku berada di sebuah rumah di Kairo, bersama engkau yang duduk di depanku membacakan artikel terakhir yang belum diterbitkan.

Kamu dapat duduk di jendelamu mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Sementara kamu dapat melihat seorang biarawati berjalan ke arah tangan kananmu, dan seorang pelacur menuju ke arah tangan kirimu. Dan kamu dapat berkata dalam keluguanmu:  “Betapa mulianya yang satu dan betapa nistanya yang lain.” Namun andai kamu tutup matamu dan mendengarkannya sebentar, kamu akan mendengar sebuah suara yang berbisik di awang-awang, “seseorang mencariku di dalam doa, dan yang lain di dalam kepedihan. Dan di dalam jiwa mereka masing terdapat suatu penghormatan untuk jiwaku.”

Ketika malam datang dan dirimu adalah gelap; berbaringlah dan jadilah gelap dengan sebuah keinginan. Dan ketika datang dan dirimu masih gelap, bangun dan berkatalah kepada siang dengan sebuah keinginan, “Aku masih gelap.” Bermain-main dengan malam dan siang adalah tindakan yang bodoh. Mereka berdua akan menertawaimu.

Mereka berkata kepadaku,”Kamu harus memilih antara kesenangan dari dunia ini dan kedamaian dari dunia yang akan datang.” Dan aku berkata kepada mereka,”Aku telah memilih keduanya karena di dalam matiku aku tahu bahwa pujangga Agung hanya menuliskan sebuah syair, dan syair itu berbagi dengan sempurna, dan juga bersajak dengan sempurna.

Mereka berkata kepadaku,”seekor burung di tangan berharga sepuluh burung di dalam semak-semak” Tetapi aku berkata, seekor burung dan sehelai bulu di dalam semak-semak berharga lebih dari sepuluh ekor burung di tangan.” Pencarianmu tentang bulu itu adalah kehidupan dengan kaki bersayap. Ia adalah kehidupan itu sendiri.

Wahai Langit, tanyakan pada-Nya. Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini, begitu rapuh dan mudah terlukam saat dihadapkan dengan duri-duri cinta. Begitu kuat dan kokoh, saat berselimut cinta dan asa. Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini, mengisi kekosongan di dalamnya, menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih, menimbulkan segudang Tanya, menghimpun berjuta asa, memberikan semangat, juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira. Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa, menghimpit bayangan, menyesakkan dada. Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa

Kukepakkan SAYAP-SAYAP PATAH-ku, mengikuti hembusan angin yang berlalu.  Menancapkan rindu di sudut hati yang beku. Dia retak, hancur bagai serpihan cermin, berserakan sebelum hilang di terpa angin.

Sambil terduduk lemah, kucoba kembali mengais sisa hati bercampur baur dengan debu. Ingin kurengkuh, ku gapai kepingan di sudut hati. Hanya bayangan yang ku dapat. Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya. Tak sanggup kukepakkan kembali sayap ini, Ia telah patah. Tertusuk duri-duri yang tajam.  hanya bisa meratap, meringis, mencoba menggapai sebuah pegangan

Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku... sebengis kematian... Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara..., di dalam pikiran malam. Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan... sekecup ciuman.

Duhai SANG PUJAAN, dengarkah ratapan-ratapan jiwaku yang tak pernah jemu melafalkan cinta dan kasih sayang. Duhai pujaanku, raihlah tanganku, lalu dekaplah daku ke dalam kehangatan api cintamu. Bakarlah aku hingga hancur lebur, lumat tanpa bekas, hingga tak ada lagi yang sanggup memisahkanku dari cintamu. Demikianlah cinta suciku, yang tak pernah lekang oleh kemarau dan tak sekalipun luntur oleh penghujan. 


Aku mengambang padamu, bersama kita akan menghayati samudera masa, hingga kehidupan yang kedua. Dan fajar pagi akan menghamparkan embun pada sebuah taman kala daku menjelma bayi, dalam dekapam seorang perempuan 

TAMAN SANG NABI yang ditulis oleh Kahlil Gibran beberapa tahun sebelum meninggal, dimaksudkannya sebagai kelanjutan dan pelengkap Sang Nabi, buah penanya yang telah ternit dalam dua puluh bahasa. Wejangan mengenai kebijaksanaan yang universal, dan renungan mistis yang menyusup ke segala dimensi alam besar, dijalin oleh Gibran dalam untaian kalimat yang puitis, laksana lukisan taman yang indah, damai dan bening : Taman Sang Nabi.

Pantai yang kokoh adalah kekasihku, dan aku menjadi buah hatinya. Ketika akhirnya kami dipertautkan oleh cinta, bulan pun menarikku darinya. Bergegas aku pergi menyongsong dia, lalu aku pergi menyongsong dia Lalu minta diri dengan berat hati. Membisikkan selamat tinggal berulang kali..


Seringkali ‘lah kugoda tebing-tebing batu karang, kuajak bercanda, dan kulempari senyum cemerlang, namun tak sekali juga merasa tergerak membalasnya. Seringkali ‘lah kuangkat insan-insan yang tenggelam, kudukung mesra dan kubawa kepangkuan pujaanku; pantai perkasa: yang memberinya daya Kekuatan-rangkuman diriku.

LAGU GELOMBANG merupakan lambang alur kehidupan manusia dan alam: sekali saling mengingkari dan tidak memahami, tapi pada hakikatnya saling membutuhkan. Adapun masing-masing mempunyai nilai kodrati, yang seyogyanya saling mengisi, seperti kata Gibran "Kala air pasang kami saling memeluk, kala surut aku berlutut menjamah kakinya, memanjatkan doa"

ENGKAU merupakan pralambang dirimu, dan menara yang kau kodratkan tak lain dan tak bukan adalah landasan sosok kebesaran pribadimu. Dan pribadimu itupun menjadi landasan pula.
AKU pun merupakan pralambang diriku, karena bayangan panjang yang menjulur ke depanku kala matahari menyingsing, akan menyatu dibawah kakiku di tengah hari. Tapi matahari yang terbit lagi akan menghamparkan bayangan lagi di depanku ; dan kembali akan mnyatu dengan diriku di siang hari.
Selamanya KITA menjadi pralambang diri kita, dan demikianlah kodratnya. Apa yang kita persatukan dan menyatu akan menjadi benih bagi lahan yang belum dibajak. Kita pun lahan dan peluku, pemersatu dan yang dipersatukan.

SANG PRALAMBANG bagi Kahlil Gibran merupakan sosok yang mencakup berbagai pengejawantahan roh manusia dalam menempuh kehidupannya. Burung, kabut, musim semi, kasih sayang, sinar matahari dan bayangan adalah pralambang gerak roh manusia - yang murni dan sejati. Ditulis dalam gaya puitis, secara falsafi dan universal., Gibran menuliskan berbagai warna dan citra sang Pralambang.