Followers

Visitors

blog-indonesia.com
   
Showing posts with label Pramoedya Ananta Toer. Show all posts
Showing posts with label Pramoedya Ananta Toer. Show all posts

"Setiap pengalaman yang tidak dinilai baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan" 

"Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya." 

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu adalah satu-satunya karya non-fiksi Pramoedya semasa menjadi tahanan politik. Buku ini merupakan kumpulan catatan dan surat-surat pribadi kepada anak-anaknya yang tak pernah terkirimkan. Juga beberapa esai-esainya. Buku ini berisi pula renungan/refleksi pribadi Pram sebagai ayah, sebagai suami, sebagai pengarang, sebagai tahanan politik yang telah merampas harta bendanya: buku, naskah, dokumentasi, rumah, sampai hak-hak kewarganegaraannya sekaligus kemanusiaannya

Ketika Majapahit runtuh (1527), Jawa menjadi daerah yang tidak bertuan dan tidak mengenal satu kekuasaan tunggal. Pada saat yang bersamaan pula, Wali Sanga mulai menyebarkan Islam melalui pesisir Utara dan Portugis telah datang ke Sunda Kelapa. Kekuasaan tak berpusat tersebar praktis di seluruh Jawa, menyebabkan keadaan kacau balau. Perang yang terus menerus untuk merebut kekuasaan tunggal membuat Pulau Jawa bermandikan darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa) yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa, dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng.
Adalah Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram dan mendirikan Kota Gede pada 1577. Kemudian Panembahan Senapati, anak Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram. Saat bersamaan muncul pula sebuah daerah Perdikan Mangir dengan pemimpinnya yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya. Seperti layaknya daerah-daerah lain di Jawa, pertempuran perebutan kekuasaan pun tidak terelakkan, demikian pula antara Mangir dan Mataram. Hal ini sangat dimungkinkan karena letak Perdikan Mangir dan Mataram yang sangat berdekatan, sekitar ± 30 km. Maka persaingan antara dua kekuasaan tersebut menjadi tidak terelakkan lagi, terlebih dengan usaha penggenapan janji Ki Ageng Pamanahan kepada Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya) untuk menguasai sepenuhnya Mataram.
Pada akhirnya Mangir kalah setelah Ki Ageng Mangir mati di tangan Panembahan Senapati sewaktu menghadap bersama Sekar Pembayun dalam sebuah perkawinan rekayasa yang dibuat oleh Mataram dalam rangka menghancurkan kekuasaan Mangir dan daerah-daerah lain yang turut membantu Mangir

Arok Dedes adalah novel yang menolak seluruh dongeng dan mistik yang kita kenal sejak kita belajar sejarah Indonsia. Di tangan Pramoedya, cerita Arok-Dedes yang terkenal itu berubah menjadi cerita politik yang menggetarkan. Inilah roman politik yang seutuh-utuhnya. Berkisah tentang kudeta pertama yang terjadi di Nusantara. Kudeta ala Jawa. Kudeta secara diam-diam yang melibatkan peranan banyak pihak. Kudeta licik tetapi cerdik. Berdarah tetapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada mendapat penghormatan yang tinggi.

Arok adalah simpul dari gabungan antara mesin para militer licik dan politisi sipil yang cerdik-rakus (meski berasal dari kasta Sudra tetapi mampu menjadi penguasa tanah Jawa). Bagaimana strateginya? Mula-mula didekatinya kaum intelektual dan brahmana (kaum moralis) untuk mendapatkan legitimasi agama maupun sejarah dan identitas (kasta). Arok mendapatkan semua legitimasi itu  untuk mengukuhkan dirinya sebagai penyelamat rakyat dari politik Tunggul Ametung yang sewenang-wenang. Arok tak harus memperlihatkan bahwa tangannya berlumur darah mengiringi kejatuhan Tunggul Ametung, karena pilitik tak selalu identic dengan perang terbuka. Politik ibarat permainan catur yang butuh kejelian, pancingan harus tega melempar umpan untuk mendapatkan keuntungan besar. Taka da kawan dan lawan. Yang ada hanya tujuan akhir: menduduki kekuasaan, mendapatkan tahta. Pada akhirnya, novel Arok  Dedes menggambarkan peta kudeta politik yang kompleks.

Novel PERBURUAN berlatarkan masa kependudukan Jepang. Novel ini berkisah tentang nasib orang-orang yang diburu karena telah merancang pemberontakan terhadap Jepang. Adalah Hardo, Dipo, dan Karmin yang menjadi shodanco (Komandan Peleton) PETA yang merancang pemberontakan. Namun sebelum menjalankan aksi, Karmin melakukan pengkhianatan. Hardo dan Dipo beserta pasukannya lantas diburu oleh pemerintahan Nippon.

Semasa dalam perburuan Hardo bertapa bersama Dipo di dalam  suatu  gua. Pada suatu saat Hardo menyamar menjadi pengemis dan mendatangi rumah Ningsih, anak seorang lurah yang menjadi tunangannya. Penyamarannya diketahui Ramli, adik Ningsih, yang langsung memberitahukan kepada emaknya. Merasa dikenali Hardo pergi. Pak Lurah yang pada dasarnya tidak senang dengan halus hendak  memutuskan pertunangan Hardo dengan anaknya lantaran Hardo adalah seorang buruan Nippon. Ia segera melaporkan keberadaan Hardo kepada Nippon.

Akhirnya, Hardo dan teman-teman tertangkap. Mereka dibawa ke rumah pak Lurah. Pada saat yang bersamaan terdengar orang-orang berteriak mengatakan bahwa Nippon telah kalah dari Sekutu, dan Indonesia telah merdeka. Massa yang mengerumun di depan pagar membuat sidokan (Komandan Kesatuan Militer) menjadi kalap dan menarik  parabellumnya dan menembakkan ke orang-orang yang berkermun di depannya. Ningsih tertembak mati, sedangkan Karmin,  yang dianggap pengkhianat hampir saja dipenggal kepalanya oleh Dipo jika tidak dicegah oleh Hardo.

Di awal abad ke-20, tanah Jawa masih sangat lekat dengan budaya feodal. Golongan darah biru menempati kelas sosial atas dalam struktur masyarakat Jawa. Salah satunya kebiasaan memiliki ‘istri percobaan’ sebelum sang bangsawan menentukan ‘istri resmi’. Adanya budaya tersebut mendorong bangsawan laki-laki rutin berburu calon istri percobaan. Jika sedang melintasi suatu desa lalu melihat ada perawan yang menggugah selera, dia akan menikahinya. Sejumlah harta benda diberikan sebagai tukon (jw: tuku artinya beli) pada bapak dan ibu si perawan. Selanjutnya anak gadisnya akan tinggal di rumah gedung sang bangsawan. Namun masa tinggal itu biasanya tidaklah lama. Begitu lahir anak dari perkawinan uji coba tadi, sang bangsawan segera menceraikannya, lalu berburu perawan baru.

Gadis Pantai pernah menjadi istri percobaan seorang saudagar kaya. Dia dicabut dari perkampungan nelayan yang miskin melalui perkawinan tadi. dia menangis sedih ketika bapak dan emaknya meninggalkannya di rumah ndoro, suaminya. Itu sebuah rumah gedung bertembok tinggi dengan banyak pelayan dan beberapa anak kecil hasil perkawinan uji coba sebelumnya. Mulai saat itu gadis pantai harus beradaptasi dengan budaya rumah gedongan. Dia harus belajar membatik dan sejumlah keterampilan khas perempuan gedongan lainnya. Dia harus belajar memerintah para pelayan – sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama hidup bersama emak dan bapak. Dia juga harus bersikap waspada dan tidak percaya kepada siapapun di rumah itu karena kedudukannya sebagai istri percobaan setiap saat dapat dicopot. Ya, walaupun bersifat sementara, status sebagaimana yang dimiliki gadis pantai tetap diperebutkan oleh banyak orang. Sementara itu dia harus memperlakukan ndoro sebagai majikan, bukan sebagai suami. Perlakuan semacam itu tidak pernah dia pelajari dari sikap emak terhadap bapak. Sungguh suatu adaptasi yang revolusioner bagi seorang Gadis Pantai.

Puncak dari segala gejolak batin itu berupa sikap ndoro mengembalikannya kepada orang tuanya. Itu terjadi beberapa saat setelah anaknya lahir. Dengan diberi sejumlah harta, ndoro memintanya pergi dari rumah gedong, tentu saja tanpa membawa serta anaknya. Perlakuan tersebut mendorong Gadis Pantai untuk berontak. Dia melawan perintah itu. Gadis Pantai ingin pergi dari rumah gedong tadi bersama bayinya. Dia tidak rela anaknya bernasib sama dengan anak-anak lain di rumah itu. Ndoro naik pitam. Dengan menggunakan paksaan, Gadis Pantai digelandang ke luar pagar. Dia tinggalkan semua yang pernah dimilikinya. Harta benda yang diberikan sebagai upah dari ndoro tidak menyenangkan hatinya. Hatinya hancur lebur, menyadari anaknya – harta yang paling berharga – harus ditinggal di rumah itu.

Ini salah satu novel Pramoedya Ananta Toer yang terselamatkan dari pemusnahan oleh rezim Orde Baru. Sebenarnya terdapat tiga novel lain yang menyertai novel Gadis Pantai.