Followers

Visitors

   


Novel Ular Keempat karya Gus tf Sakai merupakan sebuah novel yang mencoba untuk kembali memecah persoalan penting dalam adat Minangkabau. Cerita yang membungkus persoalan ini adalah sebuah kisah nyata tentang rombongan jemaah haji yang terjadi pada tahun 1970-an. Mereka dilarang untuk melanjutkan perjalanan haji karena mereka tidak melalui prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah, melalui departemen agama, dan juga karena ulah penyedia jasa perjalanan ibadah haji swasta. Namun, akhirnya mereka tetap melakukan ibadah haji dengan cara negosiasi dengan pihak kapal, yang menaruh perhatian terhadap perjuangan mereka. Dan juga ternyata bahwa pemerintah Arab Saudi menyambut mereka dengan penghormatan yang luar biasa, karena perjuangan yang telah mereka lakukan untuk sampai di tanah suci.

Kisahan novel ini dilakukan dengan memutar kembali ingatan sang tokoh, Junir, yang sering kali menjemput ingatannya tentang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di kampung halamannya semaca kecil. Dengan cara yang demikian, cerita bersesakan dengan berbagai setting yang pernah terjadi, keadaan sosial politik, peristiwa PRRI, romantisme kampung halaman, rindu dendam, dan juga persoalan demokrasi yang ada di Minangkabau, yang menjadi bagian penting di akhir novel ini.

Ayat-Ayat Cinta adalah sebuah novel karya Habiburrahman El-Shirazy. Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya; yang satu adalah mahasiswa Indonesia yang sedang studi Universitas Al-Azhar Mesir, dan yang satunya lagi adalah mahasiswi asal Jerman yang kebetulan juga sedang studi di Mesir. Kisah percintaan ini berawal ketika mereka secara tak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro. 

Ayat-ayat Cinta bertutur tentang jatuh-bangun hidup Fahri bin Abdullah Shiddiq, pemuda dari Indonesia yang menyelesaikan S2-nya di Universitas Al Ahzar, Mesir. Di sana Fahri menemui banyak tantangan, mulai dari masalah keuangan, kehidupan bertetangga, kesehatan, sampai urusan cinta. Satu per satu tantangan tersebut diselesaikannya dengan cara yang islami. Entah sengaja atau tidak, Fahri digambarkan oleh sang novelis dengan begitu sempurna: Cerdas, bijak, baik hati, sporty (suka main sepakbola), tampan, romantis, dan … dekat dengan Tuhan. Yang menarik, kedekatan Fahri dengan Tuhan ini tidak hanya diklaim orang-orang sekelilingnya, melainkan juga dirinya sendiri.


Suatu hari, secara tak sengaja Sarimin menemukan selembar Kartu Tanda Penduduk (KTP). Lantaran buta huruf, Sarimin tidak tahu siapa pemilik KTP tersebut. Dengan lugu dan berbekal niat baik, Sarimin menyerahkan KTP tersebut ke kantor polisi. Maksudnya agar kelak polisi saja yang mengantarkan ke pemiliknya.

Namun, sial sekali Sarimin. Di kantor polisi itu alih-alih mendapat pujian karena telah berbuat baik, ia malah mendapat masalah. Petugas polisi yang menerimanya justru mempersulit urusan dengan berusaha memeras Sarimin dan mengancam akan mengurungnya di penjara, sebab ternyata KTP itu kepunyaan Hakim Agung. Sarimin dituduh sebagai pencuri karena tidak segera mengembalikannya.

Sarimin yang malang tak bisa membela diri. Akibatnya secara semena-mena ia dijebloskan ke sel tahanan. Pengacara yang ditunjuk untuk membelanya malah sibuk mencari popularitas sendiri. Sarimin hanya bisa menangis dan meratapi nasib. Sungguh, hukum dan keadilan bukan milik orang kecil seperti dirinya.

Novel Terminal Cinta Terakhir karya Ashadi Siregar ini merupakan kisah terakhir dari “tri-logi”,Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu dan Terminal Cinta Terakhir, KuGapai Cintamu merupakan kisah kehidupan anak muda, yang sedikit berbeda dengan kisah dalam dua novel terdahulu. Dalam novel terdahulu, setting cerita di Kota Pelajar Yogyakarta, khususnya di kampus Universitas Gajah Mada, kali ini kisah berlangsung di Jakarta. Sebuah kota yang sumpek dan keras.

Dalam kisah ini kita akan membaca riwayat berkumpulnya kembali beberapa tokoh kunci yang sudah muncul dalam Cintaku di Kampus Biru dan Ku Gapai Cintamu, mereka adalah Widuri, Anton dan Erika. Secara tak sengaja mereka “berkumpul” di Jakarta, di sini muncul tokoh baru “Joki” yang bersama  Widuri menjadi pusat pusaran kisah novel ini.

Bagaimana mereka bisa berjumpa di Jakarta? Bagaimana kisahnya sampai Widuri muncul di Jakarta? Bagaiman nasib anak hasil kekerasan yang dikandung Widuri ? Apakah Widuri mampu melupakan kegetiran hidupnya di Jogyakarta? Siapa pula Joki? Apa kaitannya dengan Anton dan Erika mau pun Widuri?

Dalam novel ini Ashadi Siregar mencoba menggali kerasnya hidup di Jakarta, sekaligus menaburkan warna-warna indah kala jatuh cinta. Daya tarik lain novel ini adalah persinggungan kisahnya dengan adat batak.

SEPERTI rumput hidup manusia. Seperti bunga padang yang mulia, kata kitab suci. Lalu, dalam realita: rerumputan yang kuning digaring matahari akan kembali hijau di musim hujan. Cemara tak pernah kehabisan daun kendati angin tak bosan-bosannya meluruhkannya. Flamboyan sekali tempo akan gundul, tetapi kemudian kembali rimbun berbunga molek. Jadi, tak patut meratap jika nasib terpuruk ke dalam kekecewaan, sesekali. Ah, terlalu optimistis agaknya. Ya, walaupun mungkin berlebihan, begitulah bagi Tody. Lelaki muda ini sesungguhnya menerima rumput  kering dari realita. Tetapi, dia berusaha agar di hatinya berbunga flamboyan cantik.
Bunga flamboyan mekar di kepala gadis-gadis. Oh, bukan. Cuma pita-pita berwarna merah, kuning, atau hijau mengikat kucir-kucir rambut mereka, calon-calon mahasiswi yang sedang menjalani Mapram. Mapram atau perpeloncoankah namanya, bagi Faraitody tak perlu  dipersoalkan. Soal nama, itu urusan menteri P&K. Dia cuma tahu, masa itu menggembirakan. Kegembiraan sesaat, dan kemudian terkulai layu dalam realita rumput kering.
Dia menatap tubuh calon-calon mahasiswa yang duduk di lantai. Satu-satu wajah itu diamatinya. Dan, seperti tahun-tahun yang dulu di Kampus Gadjah Mada itu, dia melihat pancaran yang serupa. Pancaran wajah yang pasrah, patuh, dan penurut. Untuk beberapa hari ini, dia merasa dirinya bisa menjadi penguasa. Hitam katanya adalah hitam yang harus dikerjakan cama-cami yang diperintahnya. Tetapi, kekuasaan yang hanya beberapa saat itu tak lagi menarik, sekarang. Tahun-tahun yang berlalu telah mengajarkan untuk jangan percaya pada kelembutan gadis-gadis mahasiswi baru itu. Selama masa penggojlogan, mereka akan semanis anak kelinci jinak. Tetapi, serentak mereka mendadak jadi putri kahyangan begitu perpeloncoan berakhir. Putri kahyangan yang senyumnya aduhai sinis, yang sombongnya allahurabbi.

Itulah sepenggal kisah yang menarik dari novel ini trilogi bagian ke-2 dari Ashadi Siregar. Tertarik? Silakan download.

Novel Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar ini merupakan kisah pembuka dari tiga novel Ashari yang dikenal dengan trilogi cerita cinta di kampus. Ketiga novel tersebut adalah Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir.

Cintaku di Kampus Biru adalah kisah kehidupan anak muda khas mahasiswa Yogya yang segar dan penuh warna tahun 80-an. Setting novel ini adalah kampus Universitas Gajah Mada (UGM). Sejak saat itulah UGM dikenal dengan kampus biru.

Bagi pembaca yang sudah melawati usia 40 tahun, kisah ini sungguh akan membangkitkan kembali kenangan masa muda, masa-masa kuliah dulu. Kisah dalam novel ini memang mengekspose liku-liku kehidupan mahasiswa bernama Anton yang cerdas, kritis, dan tampan.

Dalam novel ini kita bisa melihat betapa cermatnya Ashadi Siregar memotret kehidupan mahasiswa Yogya mulai dari kost-kost-an, ruang kuliah, hingga kisah cinta dosen.

Tertarik membaca silakan download novelnya di sini

Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang terpanjang. Bahasa yang bisa menandingi 'usia' bahasa ini dari rumpun bahasa Indo- Eropa hanya bahasa Hitit. Kata Sansekerta, dalam bahasa Sanskerta artinya adalah bahasa yang sempurna. Maksudnya, lawan dari bahasa Prakerta, atau bahasa rakyat. 

Bahasa Sanskerta merupakan sebuah bahasa klasik India, sebuah bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddhisme, dan Jainisme dan salah satu dari 23 bahasa resmi India. Bahasa ini juga memiliki status yang sama di Nepal. Posisinya dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Bahasa Sanskerta berkembang menjadi banyak bahasa-bahasa modern di anak benua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk pra-klasik sebagai bahasa Weda. Yang terkandung dalam kitab Rgweda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM dan bahasa Sanskerta Weda adalah bahasa Indo-Arya yang paling tua ditemui dan salah satu anggota rumpun bahasa Indo-Eropa yang tertua.

Khazanah sastra Sanskerta mencakup puisi yang memiliki sebuah tradisi yang kaya, drama dan juga teks-teks ilmiah, teknis, falsafi, dan agamis. Saat ini bahasa Sansekerta masih tetap dipakai secara luas sebagai sebuah bahasa seremonial pada upacara-upacara Hindu dalam bentuk stotra dan mantra. Bahasa Sanskerta yang diucapkan masih dipakai pada beberapa lembaga tradisional di India dan bahkan ada beberapa usaha untuk menghidupkan kembali bahasa Sanskerta.