Followers

Visitors

blog-indonesia.com
   
Showing posts with label Andrea Hirata. Show all posts
Showing posts with label Andrea Hirata. Show all posts


Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar Pelangi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya. 

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi.

Ini adalah buku kedua dari tetralogi Andrea Hirata. Ending yang sangat mengesankan. Alurnya bagus, menarik. Tema cerita yang sederhana tapi terbungkus kalimat-kalimat yang penuh makna. Tapi sayangnya ini kurang ada sinergi dengan buku pertama, yang namanya tetralogi kan ada 4 buku, seharusnya ada kesinambungan yang bagus. Laskar Pelangi masih sedikit disebut-sebut, tapi belum mewakili kesinambungan yang bagus. Walaupun demikian, novelnya sangat berkesan dan begitu menggugah
.
Sekelompok anak-anak miskin di kawasan Belitong, bekerja sebagai kuli paling kasar di pelabuhan Belitong agar tetap bisa sekolah. Adalah Ikal, sang penutur cerita sekaligus pemeran utama; Arai, saudara Ikal, seorang simpai keramat atau sebatang kara yang diasuh oleh orang tua Ikal; dan Jimbron, si tambun yang gagap yang punya obsesi kompulsif terhadap kuda. Meskipun nakal dan berandalan, Ikal dan Arai adalah penghuni garda depan, istilah untuk orang-orang yang memiliki top rank di sekolah. Sebagai kaum buruh miskin, mereka memiliki cita-cita yang lebih mirip mimpi daripada cita-cita. Pungguk merindukan bulan.

Tapi anak-anak ini tidak sekedar bermimpi. Mereka termotivasi oleh mimpi-mimpi dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Menabung sereceh demi receh hasil dari pekerjaan mereka ke dalam celengan demi untuk mewujudkan cita-cita bersekolah ke Perancis.

Ini adalah buku ketiga Andrea Hirata. Novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi ini bercerita tentang petualangan Ikal dan Arai di Eropa. Setelah berhasil memperoleh beasiswa ke Prancis, Ikal dan Arai, mengalami banyak kejadian yang orang biasa sebut sebagai kejutan budaya. Banyak kebiasaan dan peradaban Eropa yang berlainan sama sekali dengan peradaban yang selama ini mereka pahami sebagai orang Indonesia, khususnya Melayu. Di dalam buku ini juga Ikal dan Arai kembali menuai karma akibat kenakalan-kenalan yang pernah mereka lakukan semasa kecil dan remaja dulu. Pembaca akan dibawa ke dalam petualangan mereka menyusuri Eropa dengan berbagai pengalaman yang mencengangkan, mencekam, membuat terbahak, sekaligus berurai air mata.

Ending novel ini, Ikal akhirnya menemukan Edensor, kota yang menjadi obsesinya. Lebih tepat, implikasi dari obsesinya kepada wanita yang dia cari.  Apa yang kita impi-impikan sebenarnya berada sangat dekat dengan kita, tanpa kita sadari. Ikal justru menemukan endesornya, justru dalam kondisi ”keterpaksaan”, ketika dia harus memilih pindah dari Sobborne, Prancis, ke Sheffied, Inggris. Padahal dalam perjalanan musim dinginnya, Ikal sibuk mencari A Ling, dan tidak menemukan yang dicari. Namun perjalanan membawanya kepada pencarian yang sebenarnya, sebuah pesan yang disampaikan A Ling ketika berpisah di Belitong.