Followers

Visitors

blog-indonesia.com
   
Showing posts with label Novel Pop. Show all posts
Showing posts with label Novel Pop. Show all posts

Ayat-Ayat Cinta adalah sebuah novel karya Habiburrahman El-Shirazy. Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar belakang dan budaya; yang satu adalah mahasiswa Indonesia yang sedang studi Universitas Al-Azhar Mesir, dan yang satunya lagi adalah mahasiswi asal Jerman yang kebetulan juga sedang studi di Mesir. Kisah percintaan ini berawal ketika mereka secara tak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan sengit dalam sebuah metro. 

Ayat-ayat Cinta bertutur tentang jatuh-bangun hidup Fahri bin Abdullah Shiddiq, pemuda dari Indonesia yang menyelesaikan S2-nya di Universitas Al Ahzar, Mesir. Di sana Fahri menemui banyak tantangan, mulai dari masalah keuangan, kehidupan bertetangga, kesehatan, sampai urusan cinta. Satu per satu tantangan tersebut diselesaikannya dengan cara yang islami. Entah sengaja atau tidak, Fahri digambarkan oleh sang novelis dengan begitu sempurna: Cerdas, bijak, baik hati, sporty (suka main sepakbola), tampan, romantis, dan … dekat dengan Tuhan. Yang menarik, kedekatan Fahri dengan Tuhan ini tidak hanya diklaim orang-orang sekelilingnya, melainkan juga dirinya sendiri.


Novel Terminal Cinta Terakhir karya Ashadi Siregar ini merupakan kisah terakhir dari “tri-logi”,Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu dan Terminal Cinta Terakhir, KuGapai Cintamu merupakan kisah kehidupan anak muda, yang sedikit berbeda dengan kisah dalam dua novel terdahulu. Dalam novel terdahulu, setting cerita di Kota Pelajar Yogyakarta, khususnya di kampus Universitas Gajah Mada, kali ini kisah berlangsung di Jakarta. Sebuah kota yang sumpek dan keras.

Dalam kisah ini kita akan membaca riwayat berkumpulnya kembali beberapa tokoh kunci yang sudah muncul dalam Cintaku di Kampus Biru dan Ku Gapai Cintamu, mereka adalah Widuri, Anton dan Erika. Secara tak sengaja mereka “berkumpul” di Jakarta, di sini muncul tokoh baru “Joki” yang bersama  Widuri menjadi pusat pusaran kisah novel ini.

Bagaimana mereka bisa berjumpa di Jakarta? Bagaimana kisahnya sampai Widuri muncul di Jakarta? Bagaiman nasib anak hasil kekerasan yang dikandung Widuri ? Apakah Widuri mampu melupakan kegetiran hidupnya di Jogyakarta? Siapa pula Joki? Apa kaitannya dengan Anton dan Erika mau pun Widuri?

Dalam novel ini Ashadi Siregar mencoba menggali kerasnya hidup di Jakarta, sekaligus menaburkan warna-warna indah kala jatuh cinta. Daya tarik lain novel ini adalah persinggungan kisahnya dengan adat batak.

SEPERTI rumput hidup manusia. Seperti bunga padang yang mulia, kata kitab suci. Lalu, dalam realita: rerumputan yang kuning digaring matahari akan kembali hijau di musim hujan. Cemara tak pernah kehabisan daun kendati angin tak bosan-bosannya meluruhkannya. Flamboyan sekali tempo akan gundul, tetapi kemudian kembali rimbun berbunga molek. Jadi, tak patut meratap jika nasib terpuruk ke dalam kekecewaan, sesekali. Ah, terlalu optimistis agaknya. Ya, walaupun mungkin berlebihan, begitulah bagi Tody. Lelaki muda ini sesungguhnya menerima rumput  kering dari realita. Tetapi, dia berusaha agar di hatinya berbunga flamboyan cantik.
Bunga flamboyan mekar di kepala gadis-gadis. Oh, bukan. Cuma pita-pita berwarna merah, kuning, atau hijau mengikat kucir-kucir rambut mereka, calon-calon mahasiswi yang sedang menjalani Mapram. Mapram atau perpeloncoankah namanya, bagi Faraitody tak perlu  dipersoalkan. Soal nama, itu urusan menteri P&K. Dia cuma tahu, masa itu menggembirakan. Kegembiraan sesaat, dan kemudian terkulai layu dalam realita rumput kering.
Dia menatap tubuh calon-calon mahasiswa yang duduk di lantai. Satu-satu wajah itu diamatinya. Dan, seperti tahun-tahun yang dulu di Kampus Gadjah Mada itu, dia melihat pancaran yang serupa. Pancaran wajah yang pasrah, patuh, dan penurut. Untuk beberapa hari ini, dia merasa dirinya bisa menjadi penguasa. Hitam katanya adalah hitam yang harus dikerjakan cama-cami yang diperintahnya. Tetapi, kekuasaan yang hanya beberapa saat itu tak lagi menarik, sekarang. Tahun-tahun yang berlalu telah mengajarkan untuk jangan percaya pada kelembutan gadis-gadis mahasiswi baru itu. Selama masa penggojlogan, mereka akan semanis anak kelinci jinak. Tetapi, serentak mereka mendadak jadi putri kahyangan begitu perpeloncoan berakhir. Putri kahyangan yang senyumnya aduhai sinis, yang sombongnya allahurabbi.

Itulah sepenggal kisah yang menarik dari novel ini trilogi bagian ke-2 dari Ashadi Siregar. Tertarik? Silakan download.

Novel Cintaku di Kampus Biru karya Ashadi Siregar ini merupakan kisah pembuka dari tiga novel Ashari yang dikenal dengan trilogi cerita cinta di kampus. Ketiga novel tersebut adalah Cintaku di Kampus Biru, Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir.

Cintaku di Kampus Biru adalah kisah kehidupan anak muda khas mahasiswa Yogya yang segar dan penuh warna tahun 80-an. Setting novel ini adalah kampus Universitas Gajah Mada (UGM). Sejak saat itulah UGM dikenal dengan kampus biru.

Bagi pembaca yang sudah melawati usia 40 tahun, kisah ini sungguh akan membangkitkan kembali kenangan masa muda, masa-masa kuliah dulu. Kisah dalam novel ini memang mengekspose liku-liku kehidupan mahasiswa bernama Anton yang cerdas, kritis, dan tampan.

Dalam novel ini kita bisa melihat betapa cermatnya Ashadi Siregar memotret kehidupan mahasiswa Yogya mulai dari kost-kost-an, ruang kuliah, hingga kisah cinta dosen.

Tertarik membaca silakan download novelnya di sini

RINDU hamil di luar pernikahan. Kuliahnya terbengkalai. Dokter Irawan menikah dengan gadis Bali. Giri menghamili Ningrum. Sebuah keluarga, dilanda kemelut. Kejadian demi kejadian, kian memperuncing konflik suami-isteri Pak Husni dan Farida. Benarkah mereka semua mudah terpengaruh? Gampang terbujuk? Kurang berwibawa? Ataukah itu semua dosa sang ayah di masa lalu?

Sebuah KELUARGA TERCINTA: Pak Husni dan Ibu Farida, dengan enam orang anak: Irawan, Rindu, Palgunadi, Giri, Setyawati, dan Puri. Semua, mewujud kan sebuah kisah yang layak buat disimak.betapa pun jauh betapa pun rimbun tetap harus kutempuh ke batas angan-angan puncak yang tak terusik membenamkan keasingan alam silam yang tenggelam kini mencair di sanubari. Siapa tahu kabut berlalu tersingkap di balik misteri purba dan mereka yang kehilangan jejak kembali menemui satu titik

Perjalanan cinta seorang perempuan yatim piatu yang cerdas dan mandiri  bernama Vania. Pernikahannya dengan Aries-anak pengusaha ternama- ketika keduanya sama-sama  masih berstatus mahasiswa ternyata tak semulus yang dibayangkan. Mulai dari ketidaksetujuan orang tua Aries, ketidaksiapan Aries hidup sulit, sampai perkosaan yang dilakukan sahabat Aries terhadap Vania, menjadikan kisah cinta Vania dan Aries penuh liku dan perjuangan. Betapapun sulitnya perjalanan cinta yang dialami, ada satu kenangan yang tak sanggup dienyahkan Aries dan Vania sekalipun keduanya memutuskan berpisah.
“Jika aku mencium kakimu mohon ampun, masih adakah harapan untuk membatalkan perceraian kita? Aries sangat mencintai istrinya. Dengan cinta sepanjang sungai Amazon. Selama Sungai Amazon masih mengalir, itu sumpahnya di depan Vania. Cintaku padamu takkan pernah mongering. Tetapi ketika Vania ingkar janji dan menyakiti hati suaminya untuk kedua kalinya, masihkah ada maaf baginya? Karena harga pengkhianatannya kali ini adalah harga sebuah nyawa!”
“Dia tidak banyak berubah. Atau dia berubah. Hanya Aries yang tidak melihat perubahan itu? Karena bagi Aries, dia tak pernah berubah. Sampai kapan pun. Sama abadinya dengan cintanya. Sama abadinya dengan Sungai Amazon”


Dia yatim-piatu yang berurbanisasi ke Jakarta. ABG yang tengah mencari jati diri. Di rumah orangtua angkatnya, dia tidak diterima oleh ibu dan saudara-saudaranya karena selalu membangkang.Di sekolah dia selalu dijaili teman-temannya karena sikap dan penampilannya yang berlawanan arah.

Akibatnya hampir tiap hari dia berkelahi. Geng sekolah memusuhinya habis-habisan karena dia dianakemaskan oleh wali kelasnya.Karena memang cuma gurunya yang satu ini yang memahaminya. Bertekad untuk mengubahnya. Menampilkan sisi merah jambu dalam dirinya.


Dua orang wanita dan tiga laki-laki terlihat dalam suatu drama percintaan segilima yang menggemaskan. Lalu salah seorang dari mereka meninggal-terbakar di dalam kamar tidurnya, sementara seorang lagi melarikan diri dan yang satu lagi meninggalkan gantungan kuncinya di dalam kamar korban.

Kapten Polisi Kosasih dan sahabatnya Gozali dihadapkan pada fakta bahwa kebakaran yang terjadi itu bukan akibat kecelakaan melainkan karena kesengajaan! Tetapi siapa yang telah berbuat sengaja ini? Orang yang melarikan diri atau orang yang gantungan kuncinya tertinggal di sana? Mobil siapakah yang terlihat oleh hansip meninggalkan halaman rumah korban pukul sebelas lewat seperempat malam tersebut?

Baru saja polisi beranggapan mereka telah menemukan jawabnya, terjadilah pembunuhan yang kedua -- seseorang yang sama sekali tidak terlihat drama percintaan segilima tadi. Kalau begitu, apakah ini berarti bahwa pembunuhan yang pertama itu sebetulnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan cinta yang segilima tetapi bermotif lain?


Pada zaman Cina Kuno, semasa kekuasaan Dinasti Han, seorang gadis budak menyelamatkan hidup seekor naga dan melarikan diri dari tuannya yang jahat. Dikejar seorang pemburu naga yang kejam, si gadis dan naga menempuh perjalanan panjang melintasi Cina dengan membawa batu misterius yang harus dilindungi.


Inilah kisah si gadis budak yang semula merasa dirinya tak cukup berharga untuk mempunyai nama, namun kelak menemukan kekuatan dan keberanian dalam dirinya untuk menempuh perjalanan berat penuh bahaya.


Novel karya Carole Wilkinson ini telah menerima beberapa penghargaan seperti Kalbacher Klapperschlange (German Book Choice Award) tahun 2006, Australia Book of the Year Award (2004), Queensland Premier's Literary Award (2004) dan Winner Aurealis Award for Young Adults. (2003)


Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar Pelangi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar, Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya. 

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah, daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas ekonomi.

Ini adalah buku kedua dari tetralogi Andrea Hirata. Ending yang sangat mengesankan. Alurnya bagus, menarik. Tema cerita yang sederhana tapi terbungkus kalimat-kalimat yang penuh makna. Tapi sayangnya ini kurang ada sinergi dengan buku pertama, yang namanya tetralogi kan ada 4 buku, seharusnya ada kesinambungan yang bagus. Laskar Pelangi masih sedikit disebut-sebut, tapi belum mewakili kesinambungan yang bagus. Walaupun demikian, novelnya sangat berkesan dan begitu menggugah
.
Sekelompok anak-anak miskin di kawasan Belitong, bekerja sebagai kuli paling kasar di pelabuhan Belitong agar tetap bisa sekolah. Adalah Ikal, sang penutur cerita sekaligus pemeran utama; Arai, saudara Ikal, seorang simpai keramat atau sebatang kara yang diasuh oleh orang tua Ikal; dan Jimbron, si tambun yang gagap yang punya obsesi kompulsif terhadap kuda. Meskipun nakal dan berandalan, Ikal dan Arai adalah penghuni garda depan, istilah untuk orang-orang yang memiliki top rank di sekolah. Sebagai kaum buruh miskin, mereka memiliki cita-cita yang lebih mirip mimpi daripada cita-cita. Pungguk merindukan bulan.

Tapi anak-anak ini tidak sekedar bermimpi. Mereka termotivasi oleh mimpi-mimpi dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Menabung sereceh demi receh hasil dari pekerjaan mereka ke dalam celengan demi untuk mewujudkan cita-cita bersekolah ke Perancis.

Ini adalah buku ketiga Andrea Hirata. Novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi ini bercerita tentang petualangan Ikal dan Arai di Eropa. Setelah berhasil memperoleh beasiswa ke Prancis, Ikal dan Arai, mengalami banyak kejadian yang orang biasa sebut sebagai kejutan budaya. Banyak kebiasaan dan peradaban Eropa yang berlainan sama sekali dengan peradaban yang selama ini mereka pahami sebagai orang Indonesia, khususnya Melayu. Di dalam buku ini juga Ikal dan Arai kembali menuai karma akibat kenakalan-kenalan yang pernah mereka lakukan semasa kecil dan remaja dulu. Pembaca akan dibawa ke dalam petualangan mereka menyusuri Eropa dengan berbagai pengalaman yang mencengangkan, mencekam, membuat terbahak, sekaligus berurai air mata.

Ending novel ini, Ikal akhirnya menemukan Edensor, kota yang menjadi obsesinya. Lebih tepat, implikasi dari obsesinya kepada wanita yang dia cari.  Apa yang kita impi-impikan sebenarnya berada sangat dekat dengan kita, tanpa kita sadari. Ikal justru menemukan endesornya, justru dalam kondisi ”keterpaksaan”, ketika dia harus memilih pindah dari Sobborne, Prancis, ke Sheffied, Inggris. Padahal dalam perjalanan musim dinginnya, Ikal sibuk mencari A Ling, dan tidak menemukan yang dicari. Namun perjalanan membawanya kepada pencarian yang sebenarnya, sebuah pesan yang disampaikan A Ling ketika berpisah di Belitong.

Pernahkah anda mendengar bahwa kepulauan Indonesia adalah salah satu lokasi yang mungkin sebagai sisa-sisa dari Atlantis kuno? Pernahkah anda menyimak cerita Tambo dari Minang, yang mengatakan bahwa orang Minang adalah keturunan Iskandar Agung? Dan pernahkah anda mendapati orang-orang yang yakin akan adanya kekuatan dari leluhur Nusantara yang suatu saat akan membangkitkan kembali kejayaan Nusantara?

Hal-hal yang berbau mitos yang ada dan menyebar di masyarakat itu menjadi latar belakang utama yang membentuk cerita novel "Negara Kelima" terbitan Serambi ini. Tapi tidak lantas novel ini menjadi kisah fantasi penuh mistis. Ini adalah novel tentang kriminalitas dan radikalisme yang dilatarbelakangi oleh interpretasi baru terhadap sejarah Nusantara.

"Es Ito, lahir pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang". Hanya itu yang tertulis pada profil penulis novel ini. Singkat, tidak berlebihan, tidak ingin menonjolkan apapun selain kesederhanaan. Tidak berusaha memberikan pretensi apapun sebelum pembaca tuntas mengikuti kisah yang ia tuturkan di novel ini.

Lupus adalah tokoh fiksi dalam serial novel berjudul sama karangan Hilman Hariwijaya. Novel Lupus pertama diterbitkan pada tahun 1986 berjudul Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak. Walaupun judulnya adalah plesetan dari film Kejarlah Daku Kau Kutangkap, ceritanya tak berhubungan.

Lupus memiliki teman-teman seperti Boim, Gusur, Anto, Aji, Fifi Alone, Adi Darwis, Gito(teman massa dewasanya). Iko-iko, Pepno, Happy, Uwi dan masih banyak lagi(teman masa kanak-kanak dan remajanya). Ia memiliki seorang adik bernama Lulu dan mereka berdua kini tinggal bersama sang Mami yang bernama Anita. Sedangkan sang Papi yang bernama Mulyadi, telah meninggal saat Lupus kelas 1 SMA. Beberapa kisah dari novel-novel Lupus juga telah diangkat ke dalam bentuk film dan sinetron. Selain itu juga telah terbit berbagai variasi dari cerita Lupus seperti Lupus Kecil, Lupus Milenia dan lain-lain.


Terdapat pula sederetan gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Seperti Poppi, Rina, Happy, sampai yang terbaru adalah Nessa.

Lupus identik sekali dengan permen karet yang tak pernah lepas darinya. Model rambut berjambul yang sering dihina Lulu dengan sebutan sarang Burung. Juga sifatnya yang konyol, hingga membuatnya disukai oleh seluruh teman-temannya.