Followers

Visitors

blog-indonesia.com
   
Showing posts with label Mochtar Lubis. Show all posts
Showing posts with label Mochtar Lubis. Show all posts

Mahdi di tahun-tahun itu benar-benar sebagai pemain rolet sungguhan dengan bintang amat terang. Tak ubahnya dia sebagai seorang sakti, apa saja yang disentuhnya berubah menjadi emas. Mahdi telah mencapai sukses dan berhasil dengan taryhan-taruhan hidup roletnya. Dan kini, pada suatu hari ada taruhan main rolet yang kau HARUS pasang. Di usia ke-38 ia sudah cukup umur untuk memainkan rolet yang sesungguhnya. Aku tidak sadar, bahwa di dunia ini ada perempuan. Aku begitu asyik dengan pekerjaan yang itu-itu saja. Padahal Hidup adalah Sebuah Permainan Rolet.

Semua ceritanya dalam kumpulan cerpen Bromocorah ini realistik; tidak ada kehendak untuk mengadakan eksperimen. Ia setia dengan jalur berkisahnya yang sudah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu. Dengan gaya yang khas ia mencapai intensitas penceritaan dalam cerpen "Bromocorah". "Pahlawan", maupun "Perburuan" Mochtar Lubis memang tidak berusaha untuk lebih mendalam, tetapi dengan gaya jurnalistik itu, ia tetap memikat. Kritik-kritik sosial serta sindiran-sindirannya terasa tajam dan tepat mengenai sasaran.


Salah satu karya sastrawan angkatan 1950-1960, Mochtar Lubis. Cerita yang berawal tenang dan wajar, tentang para penduduk desa yang secara rutin masuk hutan untuk beberapa hari demi menyadap getah karet serta berburu.  Konflik mulai saat seekor harimau kelaparan mengintai rombongan penduduk tersebut dan mengincar mereka. 

Dalam keadaan letih dan ketakutan, ikatan rombongan yang akrab dan tampak damai pun mulai tercabik-cabik rasa curiga dan benci. Perasaan takut bukan hanya karena bahaya harimau yang mengancam, tetapi karena segala beban kesalahan di masa lalu mendadak menghantui dan khawatir mungkin akan dibongkar oleh rekan yang lain (terlebih para warga itu percaya hal klenik bahwa harimau datang untuk menangkap mereka yang memiliki dosa besar). Dari serangakaian pesan moral yang kemudian 'digelar' menjelang akhir cerita, secara singkat mungkin kutipan kalimat dari tokoh Pak Haji ini yang paling mengena: "Sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri