Followers

Visitors

   

SEPERTI rumput hidup manusia. Seperti bunga padang yang mulia, kata kitab suci. Lalu, dalam realita: rerumputan yang kuning digaring matahari akan kembali hijau di musim hujan. Cemara tak pernah kehabisan daun kendati angin tak bosan-bosannya meluruhkannya. Flamboyan sekali tempo akan gundul, tetapi kemudian kembali rimbun berbunga molek. Jadi, tak patut meratap jika nasib terpuruk ke dalam kekecewaan, sesekali. Ah, terlalu optimistis agaknya. Ya, walaupun mungkin berlebihan, begitulah bagi Tody. Lelaki muda ini sesungguhnya menerima rumput  kering dari realita. Tetapi, dia berusaha agar di hatinya berbunga flamboyan cantik.
Bunga flamboyan mekar di kepala gadis-gadis. Oh, bukan. Cuma pita-pita berwarna merah, kuning, atau hijau mengikat kucir-kucir rambut mereka, calon-calon mahasiswi yang sedang menjalani Mapram. Mapram atau perpeloncoankah namanya, bagi Faraitody tak perlu  dipersoalkan. Soal nama, itu urusan menteri P&K. Dia cuma tahu, masa itu menggembirakan. Kegembiraan sesaat, dan kemudian terkulai layu dalam realita rumput kering.
Dia menatap tubuh calon-calon mahasiswa yang duduk di lantai. Satu-satu wajah itu diamatinya. Dan, seperti tahun-tahun yang dulu di Kampus Gadjah Mada itu, dia melihat pancaran yang serupa. Pancaran wajah yang pasrah, patuh, dan penurut. Untuk beberapa hari ini, dia merasa dirinya bisa menjadi penguasa. Hitam katanya adalah hitam yang harus dikerjakan cama-cami yang diperintahnya. Tetapi, kekuasaan yang hanya beberapa saat itu tak lagi menarik, sekarang. Tahun-tahun yang berlalu telah mengajarkan untuk jangan percaya pada kelembutan gadis-gadis mahasiswi baru itu. Selama masa penggojlogan, mereka akan semanis anak kelinci jinak. Tetapi, serentak mereka mendadak jadi putri kahyangan begitu perpeloncoan berakhir. Putri kahyangan yang senyumnya aduhai sinis, yang sombongnya allahurabbi.

Itulah sepenggal kisah yang menarik dari novel ini trilogi bagian ke-2 dari Ashadi Siregar. Tertarik? Silakan download.

0 comments

Post a Comment