Followers

Visitors

   

Inilah buku ke-2 dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Pada novel ini dikisahkan seorang sosok wanita bernama Srintil, seorang ronggeng sekaligus semangat Dukuh Paruk. Meskipun dalam tradisi seorang ronggeng tidak boleh mengikatkan diri pada seorang laki-laki tetapi ternyata Srintil sudah demikian menyatu dengan Rasus, perjaka bekas teman sepermainannya. Ketika Rasus meninggalkannya jiwa Srintil terkoyak. Dia tidak menerima keadaan ini begitu saja, melainkan berontak dengan caranya sendiri. Pemberontakan jiwa Srintil menjadi faktor penentu dalam pertumbuhan kepribadiannya. Dia tegar dan berani melangkahi ketentuan-ketentuan yang telah lama mengakar dalam dunia peronggengan, terutama dalam masalah hubungan antara seorang ronggeng dan dukunnya. 

Menjelang usia dua puluh kedirian Srintil mulai teguh. Dia bermartabat, tidak lapar seperti kebanyakan orang Dukuh Paruk dan menampik laki-laki yang tidak disukainya. Rasus ditaklukannya dalam dunia angan-angan dan Srintil merasa senang. 

Sementara kecemasan abadi yang melanda setiap ronggeng adalah kemandulan. Kegersangan ini dilenyapkan oleh hadirnya Goder, seorang bayi anak tetangga yang diakui oleh Srintil secara lahir dan batin menjadi anak kandungnya. Sementara dua pengalaman penting telah menggores wilayah lintasan hidup ronggeng Dukuh Paruk itu. Pertama ketika ia menjadi gowok . Kedua ketika pada akhirnya potongan lintas hidupnya secara tidak dimengerti Srintil terlibat dalam kekalutan politik pada tahun 1965. Srintil yang bermartabat, cantik, dan masih belia harus berhadapan dengan ketentuan sejarah yang sekali pun tidak pernah dibayangkannya. 

0 comments

Post a Comment