Followers

Visitors

   

Bagaimana di hatimu, begitu pula di hatiku. Perkataan itu masih mendengung di telingan si Taram. Itu sesungguhnyalah. Pertemuan si taram dengan Siti Nurhaida yang akhir sekali, yaitu pada suatu petang di tempat yang amat lengang, membangkitkan api berahi yang memang sudah menyala di salam hati kedua anak muda itu. Betapa tidak, karena Murhaida berikrar dengan lidahnya, berkata dengan kata hati, mengharamkan laki-laki yang lain akan jadi suaminya, selain daripada si taram, anak angkat batin kampung itu
 Si Taram tiadalah bertepuk sebelah tangan. Cinta hati anak gadis itu kepadanya sudah berurat berakhir pula. Rupanya yang manis dan kelakuannya yang tak hendak menyakitkan hati orang itulah yang terutama memikat menggetah hati kecil anak gadis itu

0 comments

Post a Comment