Followers

Visitors

   

"SEBUAH Desa, Sebuah Mitos" Begitulah subjudul Kuntowijoyo mengawali cerita bersambungnya yang dimuat di Kompas mulai hari ini, berjudul Mantra Pejinak Ular. Menokohkan Abu Kasan Sapari yang dipercaya oleh kalangan terdekatnya sebagai masih keturunan pujangga besar Ronggowarsito, cerita ini berlatar belakang kehidupan sosial berikut dunia batin masyarakat desa di wilayah kebudayaan Jawa, Surakarta, dan sekitarnya, taruhlah seperti Klaten serta daerah lain yang berasosiasi pada desa-desa di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Dalam setting budaya Jawa berikut warna Islam yang selalu mewarnai karya-karya Kunto, Abu Kasan Sapari bertumbuh dalam suatu proses dialektik dengan zaman yang terus bergerak, pada kurun waktu kira-kira menjelang akhir abad ke-20. Abu Kasan Sapari mewarisi bakat mendalang dan segala olah batin dari para leluhurnya. Itulah yang membuat seorang tua-datang entah dari mana-tiba-tiba pada suatu hari menemuinya dan mewariskan mantra atau ilmu penjinak ular. Sebagai dalang, sebagai pegawai kecamatan di desa di kaki Gunung Lawu, atau sebagai siapa saja manusia Indonesia yang hidup pada periode zaman ini, pasti mengalami, bersentuhan, bertubrukan, atau sedikitnya menjadi saksi, bagaimana mesin politik Orde Baru-Soeharto beroperasi.

Situasi berikut yang dihadapi Abu Kasan Sapari adalah bagaimana Abu, dengan segala pemahamannya yang khas atas dunia, menghadapi apa yang disebut Kunto sebagai "mesin politik". Si "mesin politik" yang menjadi  antagonis mengingatkan bagaimana kekuasaan politik di akhir abad ke-20 Indonesia beroperasi sampai ke desa-desa. Sesuai dengan sifat cerita dan sikap yang dipilih Kunto di situ, perbenturan antara sebuah pribadi di desa dengan "mesin politik" dilukiskan tidak dalam tabrakan yang seru, namun liris dan menyentuh rasa keadilan.

0 comments

Post a Comment