Followers

Visitors

   

Perempuan itu terus menari diiringi orkestrasi ombak dan derap kaki. Ujung-ujung lidah ombak menjilati kakinya. Sentuhan itu membuat ia terpejam. Ah, ombak... engkau selalu setia datang mengirimkan pukulan-pukulan ke tubuhku, serupa pagutan laki-laki, pikirnya. Gelombang sebesar induk gajah datang menjemputnya, menariknya ke tengah lautan. Perempuan itu terus terpejam, ketika ombak menandunya makin ke tengah, ke tengah lautan. Ia seperti berada dalam tandu yang diusung orang-orang kampung ketika ia dinikahkan dengan Taqorubila, laki-laki yang sangat dicintainya dan telah memberinya anak semata wayang, Karbee. Ketika ia turun dari tandu dan berjalan menuju pelaminan, ia merasakan air matanya menganak sungai di pipinya. Waktu itu, ia merasakan memasuki hari kemenangan bersama laki-laki pujaannya yang sesungguhnya kurang disukai oleh ayahnya.


Itulah salah satu penggalan cerpen Indra Tranggono yang berjudul Perempuan yang Disunting Gelombang. 

0 comments

Post a Comment